Integrasi Nahwu Spritual dengan Nahwu Gramatikal (image from IG keajaiban_islam)

JelajahPesantren.Com –  an-Nakirotu wa al-Maˋrifatu. Dalam pembahasan nahwu gramatikal, kalimat isim memiliki banyak sudut pandang, di antaranya adalah sudut pandang at-tankīr: an-nakiroh dan at-taˋrīf: al-maˋrifat. Secara bahasa, terma at-tankīr bermakna tidak tahu, bodoh, menyamarkan dan menyembunyikan (Atabik Ali, 1944: tt). Sedangkan dalam lensa istilah nahwu gramatikal, terma at-tankīr bermakna mā lā yufhamu minhā muˋīnun: sesuatu yang darinya tidak bisa dipahami pengertian yang spesifik dan konkrit (Imad Ali Jumah, 16, 2006). Kebalikan dari at-tankīr adalah at-taˋrīf, yang dalam bahasa Arab memiliki makna definisi, pembatasan, pemberitahuan, informasi, perkenalan, dan introduksi (Atabik Ali, 515: tt). Sedangkan dalam optik terminologis nahwu gramatikal, definisi at-taˋrīf adalah mā yufhamu minhā muˋīnu: sesuatu yang darinya bisa dipahami pengertian yang spesifik dan konkrit (Imad Ali Jumah, 16: 2006).

Sebagai salah satu sudut pandang kalimat isim, at-tankīr dan at-taˋrīf dalam nahwu gramatikal memiliki relasi yang tidak terpisahkan sebab at-tankīr adalah asal, dasar, dan pokok (al-alu) dari at-taˋrīf sehingga tidak salah jika dikatakan bahwa “kemakrifatan dimulai dari kenakirohan” karena at-taˋrīf adalah cabang (al-farˋu) dari at-tankīr itu sendiri. Dalam tataran ketidak spesifikan dan ketidak kekonkritan derajat at-tankīr secara berurutan dimulai dari lafadz asy-syay’u: sesuatu (paling umum), al-jismu: fisik-ragawi (lebih khusus dari yang pertama), al-hayawānu: hewan (lebih khusus dari yang kedua), al-insānu: manusia (lebih khusus dari yang ketiga), ar-rojulu: seorang pria (lebih khusus dari yang keempat), dan rojulun orīfun: pria yang bekerja (lebih khusus dari yang kelima). Sedangkan tingkatan at-taˋrīf dari yang paling utama sampai yang paling lemah derajat kemakrifatannya adalah aomīr: kata ganti (paling makrifat), al-ˋalam: nama, ismu al-isyāroti: kata tunjuk, ismu al-mawūli: kata sambung, isim yang kemasukan al-takrif, isim yang mudlof pada salah satu isim yang tersebut mulai aomīr sampai isim yang kemasukan al-takrif, dan al-munādā (paling lemah kemakrifatannya) (Imad Ali Jumah, 16: 2006).

Dalam khazanah bayani, pemaknaan ilmu fikih pada terma al-makrifat dan an-nakiroh tidak jauh dari pemaknaan fan nahwu gramatikal. “Mā wuiˋa liyadulla ˋalā syayin biˋaynihi: sesuatu yang diciptakan untuk menunjukkan kejelasan (kespesifikkan dan kekonkritan) pada dirinya sendiri” dan “mā wuiˋa liyadulla ˋalā syayin lā liˋaynihi: sesuatu yang diciptakan tidak untuk menunjukkan kejelasan (kespesifikkan dan kekonkritan) pada dirinya sendiri,” demikianlah kamus fan fikih mengartikan terma al-maˋrifat dan an-nakiroh. Secara khusus dalam disiplin ilmu fikih, terma al-maˋrifat juga diartikan sebagai idrōku asy-syay’i ˋalā mā huwa ˋalaihi: persepsi yang sesuai dengan realita objek yang dipersepsi. Oleh sebab itu, maka tidak heran jika dalam kajian seputar al-makrifat berlaku kaidah “hiya masbūqotun bi al-jahli: makrifat itu dimulai dari ketidak tahuan”. Berdasarkan hukum ini berlaku kaidah selanjutnya, yaitu “yusamma al-Haqqu Taˋālā bi al-ˋĀlimi dūna al-ˋĀrifi: Allah Yang Maha Hak disebut sebagai al-ˋĀlimi bukan al-ˋĀrif” sebab pengetahuan seorang arif diawali dengan ketidak tahuan berbeda dengan pengetahuan seorang alim yang tidak berawal dari ketidak tahuan (Ali bin Muhamad, 185: tt).  Terlebih dari itu, cakupan makrifat dalam mempersepsi dan menghasilkan sesuatu sesuai realita objek yang dipersepsi dan diusahakan hanya bersifat parsial: al-Juzˋī (tidak sempurna) berbeda dengan persepsi dan hasil yang diproduksi oleh al-ˋilmu yang  bersifat menyeluruh: al-kullī, yang oleh karena itu para ulama fikih menyatakan bahwa “ˋarroftullōha dūna ˋalimtuhu: aku mengenal Allah tapi tidak mengetahui-Nya” (Muhammad Amim, 211, 2003).

Beralih pada lensa nahwu spiritual perihal makrifat dan nakiroh, al-Qusyairi secara eksplisit menyebutkan bahwa pemilik makrifat dalam khazanah sufistik adalah seorang hamba yang telah mampu melewati stasiun-stasiun spiritual mulai stasiun pertama sampai stasiun terakhir (qismu al-bidāyati sampai qismu an-nihāyati). Sedangkan pemegang nakiroh adalah seorang hamba yang tertahan nafsu hedonis dan materialisnya sehingga tujuan hidupnya hanya berputar sekitar makan, tidur, bersenang-senang menuruti hawa nafsu, dan mengumpulkan material duniawiyah (al-Qusyairi, 42: tt).

Kajian bahasa mengartikan terma makrifat sebagai “pengetahuan” sedangkan lisan ahli sufi mengartikan makrifat sebagai pengetahuan seputar nama Allah dan sifat Allah SWT yang disertai dengan keteguhan hati hanya lillahi ketika melakukan ibadah dzohir dan batin, terus menerus bermunajat pada Allah SWT, dan mensucikan hati spiritual dari berbagai akhlak tercela (Rofiqul Ajam, 910: 1999). Sebagai psikologi spiritual (al-hāl) tingkat pertama di stasiun terakhir olah spiritual (al-maqōm), para ulama sufi mengetengahkan dua metode untuk bermakrifatulloh, yaitu: metode ainu al-yaqīn dan haqqu al-yaqīn. Metode pertama dipraktikkan dengan melakukan observasi dan penelitian mendalam perihal kekuasaan dan keagungan Allah SWT yang tersebar di alam raya. Adapun metode kedua diaplikasikan melalui proses mengenal diri sendiri, menjernihkam ruh, dan  mensucikan nafsu dengan bermujahadah (Rofiqul Ajam,911, 912: 1999). Walaupun secara metodologis pencapaian makrifatulloh, kedua metode harus dipraktekkan dengan sungguh-sungguh seorang pelaku spiritual, ternyata dari sisi terealisasinya makrifatulloh, makrifat itu sendiri ada dua kategori: kategori murni pemberian Tuhan: al-jūd al-ilāhi dan kategori hasil kerja keras seorang hamba: bażlu al-majhūd (Rofiqul Ajam, 906, 1990).

Selanjutnya indikator seorang hamba Tuhan yang telah sampai pada psikologi spiritual makrifatulloh adalah: cinta dan takut pada Allah SWT, merasa bodoh di hadapan Tuhan semesta alam, mengetahui hakikat diri sendiri dan mengetahui hakikat penciptaan, aktivitasnya hanya lillāhi Taˋālā (Rofiqul Ajam, 906, 907, 908, 911: 1999). Berdasarkan indikator makrifatulloh tersebut, maka karakter hamba yang telah diberi makrifat oleh Tuhannya adalah: mengetahui Allah SWT melalui nama dan sifat-Nya, jujur ketika bermuamalah dengan Tuhan, jauh dari akhlak tercela, sabar dan ikhlas ketika berada di stasiun penantian (qismu al-abwāb) -dalam menghadapi ujian kesedihan (al-huznu), ketakutan (al-khufu), kasih sayang (al-isyfāq), khusyuk, keengganan nafsu kembali pada kedurhakaan (al-ikhbā), zuhud, wirai, rajin beribadah (at-tabattul), optimis (ar-rojā’), dan berpaling dari kebiasaan dan kesenangan nafsu (ar-rogbah)-,  jujur karena Allah SWT dalam perjalanan spiritual, jauh dari motif nafsu pribadi, rapat menyimpan rahasia-rahasia spiritual, hati yang terasing dari selain Tuhan, bebas dari pengaruh negatif nafsu, hati yang senantiasa bermunajat, kembali pada Allah SWT dalam setiap situasi dan kondisi, dan tercerahkan cahaya firman. (Rofiqul Ajam ,909: 1999).

Sedangkan berdasarkan berbagai sudut pandang makrifat, maka makrifatulloh terbagi menjadi tiga, yaitu:

Pertama, Optik pemegang saham kemakrifatan, maka makrifat itu ada tiga kategori, yaitu: makrifat khalayak umum, makrifat golongan khusus, dan makrifat orang-orang spesial. Makrifat pertama dipraktekkan oleh mayoritas orang beriman. Makam spiritual ini mereka peroleh dengan mengetahui Allah SWT melalui berbagai perbuatan-Nya (afˋālullōh). Makrifat kedua adalah makrifat sebagian kecil orang-orang beriman. Makrifat kedua ini mereka usahakan dengan mengetahui berbagai sifat-sifat Allah SWT. Makrifat ketiga adalah makrifat para wali, nabi, dan rasul Tuhan Yang Maha Kuasa. Makrifat tertinggi ini mereka peroleh sebab mereka telah mengetahui dengan senyata-nyatanya Dzat Tuhan (maˋrifat bi ażżāt). (Rofiqul Ajam 910: 1999).

Kedua, Lensa makrifat fisik-ragawi (al-jismu), jiwa (an-nafsu), dan akal spiritual (al-ˋaqlu al-qudsi).   Makrifat secara fisik-ragawi atau yang lebih dikenal dengan makrifat Islami adalah makrifat dengan pengakuan bahwa Allah itu ada, Dia adalah Tuhan Yang Maha Menciptakan dan disembah. Makrifat  jiwa (an-nafsu) atau yang biasa disebut dengan makrifat imani adalah bermakrifat dengan menyucikan dan membebaskan Tuhan dari berbagai kekurangan. Sedangkan makrifat  akal spiritual (al-ˋaqlu al-qudsi) atau yang juga disebut makrifat ihsani adalah bermakrifat dengan menghadirkan kesadaran spiritual mengenai kehadiran Tuhan Yang Maha Rahman di setiap kejadian dan kepastian di alam semesta ini (wihdatu asy-syuhūd) (Rofiqul Ajam 911: 1999).

Dan Ketiga, Perspektif cakupan makrifat. Berdasarkan sudut pandang cakupan makrifat, maka ia terkelompokkan menjadi tiga, yaitu: makrifat masyarakat umum (maˋrifatu al-ˋām), makrifat golongan khusus (maˋrifatu al-khowā), dan makrifat kelompok spesial nan istimewa (maˋrifatu khowāu al-khowā). Cakupan makrifat masyarakat umum meliputi makrifat penghambaan (maˋrifatu al-ubūdiyati), makrifat ketuhanan (maˋrifatu ar-rubūbiyati), makrifat kepatuhan dan kedurhakaan (maˋrifatu aōˋāti wa al-maˋṣiyati), serta makrifat musuh dan nafsu (maˋrifatu al-ˋaduwwi wa an-nafsi). Kandungan makrifat golongan kedua adalah makrifat keagungan (maˋrifatu al-ijlāli wa al-umati), makrifat kebaikan dan pemberian (maˋrifatu al-ihsāni wa al-minnati), dan makrifat pertolongan (maˋrifatu at-taufīq). Adapun cakupan makrifat kelompok ketiga adalah makrifat kemesraan dan munajat (maˋrifatu al-unsi wa al-munājati), makrifat lembut dan kelembutan (maˋrifatu al-lufi wa at-talaṭṭufi), makrifat hati spiritual (maˋrifatu al-qolbi), dan makrifat sirr (maˋrifatu as-sirri) (Rofiqul Ajam 911: 1999).

Bersambung pada bagian VIII: ad-Dlomir (Ḍomīr para petualang spiritual di jalan Tuhan). 20.20 Wib, Hari Kamis 06 April 2017 Jalan Ikan Gurami VI Kelurahan Tunjung Sekar Kota Malang Jawa Timur. Aku persembahkan tulisan-tulisan integrasi Nahwu gramatikal dengan Nahwu Spiritual ini kepada sahabatku di pulau seberang: Jambi, Sumatera, Kang Abdul Wahid (perintis awal jamaah Ratibul Haddad malam Kamis Sangar Telaga desa Ngenep, Karangploso, Malang). Semoga engkau senantiasa dalam kebaikan dan semangat perjuangan di pulau seberang sana, kawan. Semoga Tuhan selalu mempermudah dan menolong setiap niat baikmu. Al-fatihah…. !

Daftar Rujukan:

Ajam, Rofiqul, Mausuˋatu Muṣṭolahātu at-taowwuf al-Islāmi, Beirut: Maktabah Libnan, 1999.

Ali, Atabik dan Muhdlor, Ahmad Zuhdi, al-’Ari: Kamus Kontemporer Arab-Indonesia, Yogyakarta: Multi Karya Grafika, tt.

Al-Jurjani, Muˋjamu at-Taˋrīfāt, Qohiroh: Darul Fadilah, 2004.

al-Qusyairi, Abdul Karim, Nahwu al-Qulūb aoghīr, Bairut: Darul Kutub al-Ilmiyah, tt.

Hakim, Suad, al-Muˋjam aūfī, Beirut: Dandanah, 1981.

Ihsan, Muhammad Amim, at-Taˋrifāt al-Fiqhiyyah, Beirut: darul Kutub al-Ilmiyah, 2003.

Jumah, Imad Ali, an-Nahwu wa aorfi al-muyassari, saudi Arobia: Maktabah malik Fahd, 2006.

Rozak al-Kasyani, Abdur, Muˋjamu Iṣṭilāhātu aṣ-ṣūfiyah, Qohiroh: Darul Manar, 1992.