K.H. Akhyarul Umam

JelajahPesantren.Com – Ithmi’nan berarti tenang, anteng, dan damai. Demikian penulis mengilustrasikan sosok kepribadian Mbah Yai Umam. Bawaan sikap tersebut senantiasa menyatu dalam keseharian dirinya. Diantara sikap dan ithmi’nan (ketenangan) beliau adalah ketika tengah berjalan, langkah kaki beliau sangat teratur dan seperti sejalan dengan kemantapan hatinya. Entah itu ketika berjalan dari rumah hendak menuju ke masjid untuk mengimami shalat berjamaah atau ketika hendak menghadiri sebuah undangan pengajian atau acara-acara lain di tengah-tengah warganya. Ketenangan beliau sering ditularkan kepada santri-santri dan masyarakatnya. Beliau sering mengajak para santri dan masyarakat untuk hidup dengan menikmati prosesnya, artinya tidak menjalani hidup ini dengan grusa-grusu, dengan tergesa-gesa karena ingin segera selesai dan sampai.

Sikap Ithmi’nan tersebut secara kontinyu beliau contohkan mulai dari hal-hal yang kecil, seperti makan dan minum, misalnya. Ketika kita makan misalkan, sebelum setiap memasukkan makanan kedalam mulut maka harus didahului dengan membaca basmalah, baik secara jahr (terucap) atau secara sirr (dalam hati) kemudian makanan tersebut dikunyah sampai lembuh, setelah lembut baru selanjutnya ditelah kedalam perut. Demikian seterusnya setiap hendak memasukkan suatu makanan kedalam mulut. Lebih istimewa lagi saat-saat mengunyah makanan senantiasa diringi dengan dzikir kepada Allah s.w.t. apapun makanan yang dikunyah oleh mulut akan terasa sangat nikmat.

Meminum juga demikian, setiap hendak minum sebelum mulut menyentuh bibir gelas maka harus didahului dengan basmalah (membaca bismillahirrahmanirrahim), meminum tidak boleh satu telanan secara langsung terus menerus. Tetapi dinikmati dulu, setelah membaca basmalah minumlah satu tegukan, kemudian membaca basmalah lagi dan satu tegukan lagi, dan begitu seterusnya. Beliau juga mencontohkan prilaku ithmi’nan dari perbuatan yang sangat sederhana, yaitu ketika seseorang hendak membuka pintu, pintu apapun, baik itu pintu rumah, pintu kamar atau pintu-pintu yang lainnya. Peganglah gagang pintu dengan tenang didahului dengan menyebut asma Allah, atau paling tidak dengan membaca basmalah. Masuklah dengan mendahulukan kaki sebelah kanan.

Menurut pandangan Mbah yai Umam, apabila dari hal-hal ringan saja dapat istiqamah, maka akan dihantarkan kepada hal-hal yang besar, akan disingkap rahasia-rahasia oleh Allah yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan dan dialami oleh seseorang. Kemudian apabila sikap ke istiqamahan terus dipertahankan maka sudah barang tentu seseorang dalam menjalani kehidupan ini akan menemukan banyak anugrah, kedamaian dan ke karomahan.

Nama lengkap Mbah yai Umam adalah K.H. Akhyarul Umam (71 tahun), beliau adalah putra bungsu dari K.H. Sulaiman Zuhdi Affandi dari duabelas bersaudara. K.H. Sulaiman Zuhdi Affandi merupakan salah seorang pejuang kemerdekaan yang maninggal oleh kebiadaban PKI pada peristiwa Madiun Affair 1984. Ketika abahnya diciduk dan bantai oleh PKI beliau masih sekitar berumur dua-tiga tahun. Mbah Yai Umam tinggal dilingkungan Pondok Pesantren Ath-Thohhirin-Mojopurno, Magetan.

Mbah Yai Umam aktif pada kegiatan sosial kemasyarakatan, hal ini dibuktikan dengan menjadi sebagai ketua umum Majlis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Magetan periode 2013-2017. Sebenarnya beliau masih diminta kembali untuk melanjutkan estafet kepemimpinan periode berikutnya di MUI Magetan, namun seiring dengan bertambahnya usia, dan dengan alasan ingin lebih menyibukkan diri pada urusan yang bersifat vertikal (usul) maka beliau menyerahkan sepenuhnya kepada peserta dan anggota MUI Magetan untuk memilih ketua MUI untuk periode berikutnya, 2017-2022.

Disamping menjadi ketua MUI, pada periode yang sama beliau juga diminta duduk di dewan syuriah Nahdlatul Ulama (NU) Magetan. Setiap minggu sekali, pada hari Rabu sore beliau membuka kajian untuk masyarakat umum di Masjid Ath-Thohirin dengan kitab Tafsir Al-Qur’an “Jalalain” karya Imam Jalaluddin As-Suyuthi dan Jalaluddin Al-Mahalli sebagai materi kajiannya. Beliau juga membentuk kelompok kajian yang dinamakan dengan “Himmatus salikin” (cita-cita para pendamba menuju Tuhan).

Kelompok kajian “Himmatus Salikin” ini tidak digelar di rumah atau di masjid pondok melainkan bertempat di masyarakat. Kajian ini beliau gelar disalah satu rumah seorang warga masyarakat Mojopurno. Digelarnya kelompok kajian ini di luar pondok supaya masyarakat yang berkeinginan untuk mengikuti kajian bisa datang secara leluasa. Kelompok kajian ini dikhususkan hanya untuk suluk, yaitu bagi mereka yang ingin wusul ma’rifat billah. Materi kajian adalah kitab “Risalatul Mustarsyidin” karya Abi Abdillah Al-Harits Bin Asad Al-Muhasibi yang sudah beliau tarjemahkan kedalam bahasa Jawa. Al-Muhasibi merupakan salah seorang ulama salaf yang meninggal pada tahun 243 H. “Risalatul Mustarsyidin” merupakan kitab tasawuf yang ditulis oleh Al-Muhasibi jauh sebelum aliran-aliran thariqat bermunculan.

Kajian “Himmatus Salikin” digelar setiap sebulan sekali, tepatnya – biasanya- setiap hari sabtu malam minggu, dimulai pada jam 9 malam sampai jam 12/13 malam. Ditengah-tengah kajian inilah beliau sering menganjurkan jama’ahnya untuk senantiasa istiqamah dalam kebaikan dimulai dari perkara-perkara yang sepele. Melaksanakan amalan semata-mata hanya karena Allah s.w.t., dan yang paling penting dari semuanya adalah bagaimana seorang hamba itu dalam setiap kondisi dan situasi senantiasa hadir, selalu merasa Allah hadir dalam dirinya. Memulai semua itu adalah dengan jalan thuma’ninah (ketenangan). Tenang dalam situasa apapun. Perbanyak dzikir kepada Allah s.w.t. Dengan berdzikir dalam ketenangan, seseorang akan dibukakan pintu kepekaan, ia akan tumbuh sebagai hamba yang awas, dengan sikap yang awas seorang hamba akan dibukakan rahasia-rahasia, dan selebihnya ia akan senantiasa dituntun ke dalam kebaikan oleh Allah s.w.t.