jelajahpesantren

JelajahPesantren.Com – Manusia secara historis tidak dapat memilih di tempat mana dia akan dilahirkan sebagaimana ia juga tidak dapat memilih siapa yang akan melahirkannya dan menjadi sebagai orang tuanya. Setelah ia lahir dan hadir di muka bumi ia sudah berada ditengah-tengah lingkungan dimana secara historis pula harus ia terima. Apapun bentuk dan tradisi lingkungannya harus diterimanya dan tidak ada alternatif selainnya, entah itu bangsa, budaya, ajaran, tradisi, dan agama. Allah s.w.t., telah mentakdirkan kepadanya berada dilingkungan yang sudah ditentukannya. Dalam ajaran Islam, setiap calon anak manusia yang akan dilahirkan ke dunia sebelum ia benar-benar ada di dunia maka terlebih dahulu ia melakukan kontrak dengan Penciptanya, Allah s.w.t., dikatakan kepada calon manusia, detik ini kamu sudah menyaksikan bahwa Aku adalah penciptamu, dan Aku adalah Tuhanmu. Maka karena kesanggupan manusia menerima kontrak tersebut kemudian ia benar-benar hadir di muka bumi. Darinya pula, setiap manusia terdapat atau membawa benih-benih “sifat ketuhanan” dalam dirinya.

Potensi benih sifat inilah bekal di tempat manapun manusia dilahirkan dan berkembang. Karena pontensi benih sifat ini pulalah manusia disebut sebagai wakil dari Penciptnya (khalifah) di muka bumi guna memakmurkan dan memaslahatkannya. Di lingkungannya yang baru manusia mulai tumbuh berkembang bersama lingkungannya. Allah s.w.t., sudah menggariskan bahwa muka bumi ini diisi oleh berbagai varian manusia, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Takdir Allah-lah yang menentukan manusia A berada di lingkungan suku atau bangsa B dan manusia B berada di lingkungan suku atau bangsa F dan begitu seterusnya. Siapapun manusianya, ia terdapat benih “sifat Tuhan” dalam dirinya.

Nabi Muhammad s.a.w pernah mengatakan bahwa agama seorang anak manusia mengikuti lingkungan dimana ia dilahirkan. Lebih jauh lagi manusia merupakan bagian utuh dari prodak lingkungannya. Benih “sifat keTuhanan” yang terdapat dalam diri manusia adalah potensi segala sifat-sifat kebaikan yang tersimpan dalam jiwanya. Di lingkungan manapun manusia berada, di dunia ini adalah proses tiada henti (perjungan) menyibak dan mengeluarkan “sifat-sifat keTuhanan” tersebut. ini adalah perlombaan untuk menjadi baik (fastabiqul khairot). Pada dasarnya sangat mudah sekali bagi Allah supaya semua manusia yang diciptakannya beriman kepadanya, namun Allah tidak melakukan itu. Allah lebih senang dan menghargai atas segala usaha manusia mengeksplorasi “benih-Nya”. Sebab setiap manusia yang terlahir di dunia ini sudah dianggap mampu (makhluk pilihan/ahsani taqwim) setelah proses perjuangannya di alam rahim untuk memerankan “sifat-sifat-Nya” di dunia.

Sesama makhluk yang diciptakan oleh Allah s.w.t., tidak pantas saling membenci. Bagaimana dapat saling membenci padahal dalam setiap diri manusia terkandung benih-benih “sifat keTuhanan” yang sama. Sesama manusia selayaknya saling kasih dan asuh, saling membantu untuk dapat membuka dan mengeluarkan benih-benih “sifat ketuhanan” tersebut. Apabila memang terpaksa harus membenci manusia, maka yang sangat pantas dibenci bukan diri sebagai manusianya melainkan semata-mata karena perilaku sewenang-wenangnya sehingga menghalangi dan menutupi benih “sifat ketuhanan” muncul darinya. Membencinyapun tidak dengan membabi buta dan tidak dengan terlalu. Dengan manusia yang demikian, selayaknya memperlakukannya dengan pandangan iba, tulus, dan kasih sayang, sebab ia telah melarutkan dirinya jauh dari sinar ketuhanan.

Manurut pandangan Allah s.w.t., manusia yang paripurna adalah mereka yang bertaqwa kepada-Nya. Sebab manusia taqwa sudah barang tentu segala tindak dan tanduknya memperlihatkan atau mewakili sifat-sifat kemaha agungan-Nya. Manusia taqwa adalah mereka yang gemar menolong sesama dalam kebaikan, ringan tangan dengan suka membantu dan menolong manusia yang lain dan kepada sesama makhluk secara ikhlas tanpa mengharap imbalan kembali. Manusia taqwa adalah mereka yang banyak peduli dengan sesama, baik dirinya dalam keadaan susah atau dalam kondisi berkecukupan dan melimpah tanpa ada maksud pamrih apapun. Manusia taqwa adalah mereka yang mengedepakan santun yang mampu manahan amarah, terbuka dan tidak mudah marah. Manusia taqwa adalah mereka yang mengedepankan pintu maaf daripada gengsi dan egosentrisnya.

Dunia dan isi didalamnya diciptakan oleh Allah untuk umat manusia. Diciptakan oleh Nya untuk memenuhi kebutuhan manusia. Makanan, minuman, kendaraan, tempat tinggal, semuanya disediakan oleh Nya untuk manusia. Allah tidak pernah memilih kepada varian manusia seperti apa rizki-Nya akan diberikan. Bagi Allah seluruh manusia adalah “titisan-Nya”, Kasih-Nya meliputi seluruh ciptaannya. Atas nama kasih Allah s.w.t., Tidak dibenarkan menvonis manusia terhadap sesama manusia dengan atas nama kemurkaan Allah, Tuhan semesta. Kelak Allah sajalah tempat kembali kita, yang maha berhak atas hasil akhir dari usaha kita memerankan “sifat-sifat-Nya” di buminya ini. Terkadang kita menghukumi manusia lainnya atas prasangka (dzan) kita bahwa apa yang sudah kita voniskan adalah sabda-Nya, padahal bisa jadi itu lahir hanya dari ego dan nafsu serakah kita dan bukan lahir dari petunjuk serta hidayah Allah s.w.t.