jelajahpesantren

JelajahPesantren.Com  – Tradisi secara bahasa rizki berarti pemberian dimana pengertian secara istilah adalah pemberian yang datangnya dari Allah s.w.t., dan didalam banyak keterangan disebutkan bahwa rizki manusia ditetapkan bagiannya saat ia memasuki usia empat bulan sepuluh hari ketika masih di dalam kandungan ibunya. Jadi, pada dasarnya bagian jatah anugrah manusia dari Allah sudah di acc ketika ia masih di dalam rahim ibunya, bahkan dalam keterangan yang lain, seseorang tidak akan meninggal sebelum jatah rizki yang ditetapkan kepadanya habis. Tetapi manusia tidak pernah diberitahu oleh Allah s.w.t., dalam bentuk serta jumlah anugrah atau rizki yang ditetapkan kepada setiap individu manusia. Dan inilah kemudian yang membawa manusia mencari tahu bentuk atau seberapa besar jumlah rizki yang diberikan Allah kepadanya.

Menarik ketika kita mengambil ibrah kejadian yang pernah dialami oleh kedua hamba Allah yang bernama Hajar dan Ismail. Hajar adalah Isteri dari Nabi Ibrahim sedangkan Ismail adalah putra dari mereka. Suatu ketika karena panggilan dakwah Nabi Ibrahim meninggalkan Hajar bersama Ismail yang masih bayi di gurun sahara yang sangat tandus, gersang dan terik yang sangat menyengat yang saat sekarang daerah ini dikenal dengan sebutan Haramain (Makkah dan Madinah).

Sepeninggal Nabi Ibrahim, Hajar seutuhnya hanya berpasrah kepada Allah s.w.t., dan tidak kepada yang lainnya. Di tengah-tengah terik padang pasir Hajar mulai kehabisan bekal. Hajar mulai panik ketika bayi Ismail menangis keras karena didera kehausan yang sangat. Hajar kebingungan, ia berlari bolak balik kesana kemari. Ia berlari mendaki menyusuri ke tempat yang lebih tinggi supaya dapat leluasa melemparkan pandangannya dari tempat tersebut, barangkali di kejauhan sana terlihat tanda-tanda sumber mata air yang bisa dijangkau untuk diambil sebagai penghapus dahaga Ismail dan dirinya. Hajar bolak-balik dari bukit yang satu ke bukit yang lain. Bukit “patilasan” Hajar ini kemudian dikenal dengan Shafa dan Marwah. Tetapi Hajar tidak melihat tanda-tanda adanya sumber mata air disana. Setelah sekian waktu Hajar berikhtiar mencari sumber mata air tanpa diduga ternyata air keluar dari tempat dimana Ismail berada. Didalam keterangan disebutkan bahwa mata air tersebut keluar dari bekas gesekan tumit kaki Ismail ke tanah saat ia sedang keras menangis. Air yang keluar ini dikenal dengan air Zamzam.

Mencerna pengalaman Hajar diatas, dapat ditarik pemahaman secara filosofis. Sesungguhnya Allah s.w.t., mendatangkan jatah yang sudah ditetapkan terhadap manusia sekehendak Diri-Nya. Kita melihat bagaimana usaha Hajar untuk mencari rizki (air/sesuatu yang dapat mengobati haus dahaganya atau bahkan rasa laparnya di gurun sahara). Usaha Hajar adalah gerak atau aktifitas alami sebagai hamba yang diberikan (rizki/anugrah) kesehatan yang dia gunakan dalam rangka beribadah kepada Allah s.w.t. bentuk Ibadah tersebut adalah ketika Hajar berjuang mencari sumber air untuk bertahan hidup ia dan anaknya. Hajar sepenuhnya menyadari bahwa ia hanya semata-mata dapat berusaha, bergerak dengan tubuhnya yang masih sehat dan kuat.

Tetapi Allah berkehendak lain. Justru mata air muncerat tepat dekat kaki Ismail. Namun, ini juga merupakan anugrah yang besar dari Allah untuk Hajar. Dapat dibayangkan betapa bertambah lelahnya fisik Hajar andai ia melihat sumber mata air di kejauhan sana dari bukit Shafa atau bukit Marwah. Dengan keluarnya sumber mata air di samping kaki Ismail, maka Hajar tidak perlu repot pergi ketempat yang jauh sambil memikul air serta meninggalkan Ismail sendirian. Dengan keluarnya sumber mata air dekat kaki Ismail, tentu air itu juga adalah air untuk Hajar.

Lebih jauh, kita dapat melihat bahwa segala usaha dari ikhtiar yang kita jalankan hasilnya belum tentu dapat menghampiri dan berada dalam genggaman kita. Bisa saja buah dari hasil yang kita usahakan, tetapi malah keberuntungan higgap kepada orang-orang di sekeliling kita, kepada orang-orang dekat kita, atau orang-orang tercinta kita, misalkan hinggap kepada istri kita, anak-anak kita, atau kepada siapapun yang berada dalam kasih sayang kita. Sebab bisa saja apabila buah dari hasil yang sudah kita usahakan itu mendekati kita dan hinggap kepada kita malah akan membawa kepada kepayahan yang berlipat-lipat yang belum tentu kita mampu menjalaninya. Maka lebih baik buah dari hasil usaha itu jatuh dan hinggap kepada orang-orang dekat kita, dan toh itu juga bagian dari kita. Dari pemikiran seperti ini, tidak heran jika dalam kehidupan sosial kita sering mendengar bahwa tidak ada usaha dan doa orang tua dan dari orang-orang tersayang yang sia-sia sebab itu semua akan ada hasilnya. Apabila hasil itu tidak hinggap datang kepadanya maka hasil itu akan hinggap datang kepada anak-anak turunannya atau orang-orang tercintanya. Sebagaimana usaha Hajar yang buah dari hasil jerih payahnya “hinggap” kepada anaknya, yaitu Ismail.

Jika kita melihat dari aspek bayi Ismail, maka kita dapat merunungi bahwa rizki itu hinggap kepada manusia-manusia yang bersih. Artinya rizki atau anugrah Allah yang sudah ditetapkan itu mencari dan datang dengan sendirinya kepada mereka yang bersih hati atau jiwanya. Dengan pengertian yang tidak berbeda, bahwa rizki atau anugrah itu pada dasarnya akan mendatangi hamba-hamba yang bersih. Dari sinilah barangkali muncul ungkapan dalam bahasa Arab, ar-rizqu yathlub al-‘abd, rizku itu datang mencari hamba (empunya rizki), dan buka sebaliknya, al-‘abd yathlub ar-rizq, hamba itu datang mencari rizki.

Tetapi tidak ada manusia yang benar-benar bersih. Dan yang paling dekat dengan bersih adalah manusia atau hamba-hamba Allah yang bertakwa. Maka dalam hidup ini kita selalu melihat bahwa orang-orang shaleh, para wali tidak pernah merasa resah dengan rizki. Sebab mereka sangat merasa yakin bahwa rizkilah yang akan datang kepadanya, dan bukan sebaliknya, yaitu mereka yang sibuk mencari rizki-Nya. Benarlah firman Allah s.w.t., dalam surat At-Thalaq 2-3. “ Dan barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar. Allah akan memberinya rizki dari arah yang tidak diduga-duga, dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya”. Allohu A’lam