Nā’ibu al-Fāili

JelajahPesantren.Com –  al-Mafˋūl al-Lażī Lam Yuamma Fāˋiluhu Maˋahu:Nā’ibu al-Fāili: Para Wali Allah dan Hakikat Karomah Mereka. Dengan sangat simpel, Kyai Shonhaji dalam al-Ajurumiyah mendefinisikan al-Mafˋūl al-Lażī Lam Yuamma Fāˋiluhu Maˋahusebagai al-ismu al-marfūˋu allażī lam yużkar maˋahu fāˋiluhu: isim yang dibaca rofak, yang failnya tidak disebut bersamanya. Untuk mengetahui isim yang dibaca rofak tersebut berkedudukan sebagai mafˋūl al-lażī lam yuamma fāˋiluhu maˋahu atau fail, maka harus diketahui terlebih dahulu cara baca fiil yang mendahuluinya. Artinya, jika fiil sebelum isim yang dibaca rofak tersebut adalah fiil mabni maklum [kalimat aktif] maka dapat dipastikan bahwa isim yang dibaca rofak setelahnya berkedudukan sebagai fail. Namun jika fiil sebelum isim yang dibaca rofak tersebut adalah fiil mabni majhul [kalimat pasif], maka dapat dipastikan bahwa isim yang dibaca rofak tersebut berkedudukan sebagai mafˋūl al-lażī lam yuamma fāˋiluhu maˋahu (Kyai Sonhaji, 12: 1998).

Masih menurut Kyai Shonhaji, indikator suatu isim itu bernama mabni majhul [kalimat pasif] adalah: [1] jika fiil tersebut berupa fiil madli maka harokat huruf pertamanya dibaca dlummah sedangkan harokat huruf sebelum akhir dibaca kasroh; dan [2] jika fiil tersebut berupa fiil mudlorik maka harokat huruf pertama dibaca dlummah sedangkan huruf sebelum akhir dibaca fathah. Adapun bentuk isim yang dibaca rofak yang berkedudukan sebagai mafˋūl al-lażī lam yuamma fāˋiluhuitu ada dua macam: isim dzohir dan isim dlomir sebagaimana contoh uriba zaidun wa yurobu zaidun [zaid dipukul dan zaid sedang dipukul], uribtu, uribta, wa uribū [saya dipukul, kamu dipukul, dan mereka semua dipukul] (Kyai Sonhaji, 12: 1998).

Berdasarkan penjelasan Kyai Sonhaji di atas seputar pembahasan mafˋūl al-lażī lam yuamma fāˋiluhu maˋahudalam kacamata nahwu gramatikal, maka pembahasan integrasi nahwu spiritual dengan nahwu gramatikal kali ini akan mengetengahkan seputar [1] hakikat mafˋūl al-lażī lam yuamma fāˋiluhu maˋahu, [2] Karomah sebagai implikasi ruhaniyah i’rob rofak bagi mafˋūl al-lażī lam yuamma fāˋiluhu maˋahu, [3] isyaroh spiritual harokat fiil madli dan fiil mudlorik yang mabni majhul, dan [4] makna sufistik ragam bentuk isim yang dibaca rofak sebab menjadi mafˋūl al-lażī lam yuamma fāˋiluhu maˋahu.

Pertama, hakikat mafˋūl al-lażī lam yuamma fāˋiluhu maˋahu. Dalam karya integrasi sufistiknya, Ibnu Ajibah mengartikan hakikat mafˋūl al-lażī lam yuamma fāˋiluhu maˋahu sebagai “al-ˋārifu billāhi al-mutahaqqiqu bi maqōmi al-fanā’i wa al-baqō’i wa huwa an-nā’ibu ˋani al-fāˋili al-haqīqī fī tarīfi ahkāmihi at-taklifiyyati wa at-taˋrifiyyati al-jalāliyyati wa al-jamāliyati wa huwa al-qubu al-jāmiˋu wa yuqōlu fīhi al-ghou wa yuamma quban: Seorang arif billah yang telah mantap dalam psikologi spiritual fana’ dan baqo’. Dialah yang dikenal sebagai pengganti Fail Hakiki dalam merealisasikan hukum-hukum-Nya di alam semesta, dan mengenalkan segenapmakhluk pada-Nya  lewat makrifat keagungan dan keindahan-Nya. Dia juga disebut sebagai wali qutub dan wali gouts”. Wali inilah yang menjadi sumber pancaran energi positif pada setiap derajat kewalian di bawahnya yang meliputi wali naqib, najib, awtad, abdal, dan imamani. Dialah wali agung pemegang kunci-kunci alam semesta yang mewakili Tuhan dalam memberikan kebaikan dan rahmat pada segenap ciptaan-Nya (Ibnu Ajibah, 281-282: tt).

Wali Qutub, dalam terminologi sufistik, adalah al-kholīfah al-bāin: penerus batin spiritual Rasulillah saw, pemimpin spiritual zamannya. Disebut sebagai wali “qutub: inti rotasi” sebab pada dirinya terkumpul dan terpancar semua psikologi dan stasiun spiritual [al-ahwāl wa al-maqōmāt]. Dialah manusia paling sempurna yang mewarisi akhlak spiritual Rasulillah saw. Wujud wali agung ini di alam nyata hanya ada satu. Artinya jika dia meninggal baru ada yang menggantinya dari wali imamani [dua wali agung]. Sedangkan wilayah edar kekuasaan wali ini hanya di alam nyata, tanpa alam ghoib. Sebab yang diberi hak kuasa Tuhan menguasai alam nyata dan alam ghoib hanya satu sosok, yakni ar-rūhu al-musofawy: roh spiritual Nabi Muhammad saw, yang padanya disematkan firman Tuhan, “lawlāka lamā kholaqtu al-ˋālama: seandainya tidak ada kamu [Muhammad saw] niscaya Aku tidak akan memciptakan alam semesta (Ibnu Abidin, 29 & 30: 2006). Menurut as-Suhrowardi sebagaimana dikutip Abu Royyan, wali qutub adalah al-wāsiotu baina ˋālami al-amri wa ˋālami al-kholqi: perantara agung yang menghubungkan dua alam: alam ghoib dan alam nyata (Abu Royyan, 105: 1969).

Wali Abdal: wali pengganti. Di antara sebab hirarki kewalian ini disebut sebagai wali badal: pengganti adalah [1] mereka telah mampu merubah akhlak tercela mereka menjadi akhlak terpuji. Lebih dari itu jiwa mereka telah sampai pada fase an-nafsu ar-rōiyatu wa al-mariyatu: jiwa yang tunduk ridlo pada hukum Tuhan sehingga Tuhan menjadi ridlo pada mereka; dan [2] mereka menjadi pewaris dan mandataris akhlak spiritual dan tugas kenabian Muhammad saw [Ibnu Abidin, 30 & 31: 2006). Mereka adalah para kekasih Tuhan yang sempurna ilmu syariah dan tarekatnya, berbelas kasih pada semua makhluk, istikomah dalam jalan Tuhan, moderat dalam berprilaku, dan terbebas dari belenggu khayalan dan bayang-bayang semu. Barometer spiritual mereka dapat kita lihat dari empat unsur, mulai dari menahan diri dari setiap sesuatu yang tidak bermanfaat [as-umtu], gemar melatih nafsunya dengan berlapar-lapar ria atau berpuasa [al-jū’u], begadang malam dalam rangka berasyik maksyuk dengan pencipta-Nya, sampai mengasingkan diri dari selain Tuhan-Nya [al-uzlatu]. Menurut Ibnu Arobi, jumlah wali Abdal ada tujuh sebagaimana jumlah tujuh petala langit dan tujuh sosok nabi-nabi agung dalam neraca sufistik. Petala ketujuh diwakilkan pada wali badal yang hatinya seperti hati Nabi Ibrohim as. Petala keenam diwakilkan pada wali badal yang hatinya laksana nabi Musa as. Petala kelima diwakilkan pada wali badal yang hatinya mewarisi sifat Nabi Harun dan Yahya as. Petala keempat diserahkan pada wali badal yang hatinya menjadi penerus hati spiritual nabi Idris as. Petala ketiga diwariskan pada wali badal yang hati spiritualnya seperti hati Nabi Yusuf as. Petala kedua dikuasakan pada wali badal yang hati spiritualnya layaknya hati Nabi Isa as. Petala pertama diserahkan pada wali badal yang derajat hati spiritualnya layaknya Nabi Adam as (as-Syarqowi, 22-24: 1987).

Disamping empat unsur barometer ibadah vertikal kewali abdalan seseorang sebagaimana telah disebut, maka barometer relasi sosial-horisontal mereka dengan sesama makhluk Tuhan adalah terlihat dari prilakunya yang tidak pernah melaknat, mencaci maki, menyakiti, menghina, iri hati, dengki, apalagi bermusuhan sebab rebutan harta dunia. oleh Sebab itu, perhiasan pribadi mereka adalah lemah lembut dalam berinteraksi sosial, dermawan dalam urusan harta dunia, murah senyum dalam bertutur kata, dan menebar keselamatan di manapun mereka berada. Terakhir, mereka selalu istikomah dalam takwa dan takut dzohiron wa batinan pada pencipta-Nya (Ibnu Abidin, 36-37: 2006).

Wali Awtad: Pasak bumi, pakune bumi. Nama lain dari wali ini adalah al-jibāl: pegunungan, yang dengannya Tuhan menjaga kesetabilan alam semesta. Jumlah mereka dalam satu waktu ada empat, yang  terpencar di empat penjuru mata angin: timur, barat, utara, dan selatan. Satu dari mereka memiliki hati spiritual layaknya Nabi Adam as, satunya lagi memiliki hati spiritual seperti Nabi Ibrohim as, satunya lagi ber-hati spiritual layaknya Nabi Isa as, dan satu yang terakhir ber-hati spiritual seperti Nabi Muhammad saw  (Ibnu Abidin, 38: 2006). Sebagai wali yang bertugas sebagai pasak bumi, maka keberkahan derajat mereka di hadapan Fail Hakiki menjadikan bumi tetap aman terkendali penuh kesuburan dan kedamaian. Wali yang menjaga bumi timur disebut Abdur Rohman. Wali yang bertugas di barat bergelar Abdul Wadud. Wali yang menjaga bumi utara bernama Abdur Rohim. Sedangkan wali yang diberi amanah menjaga kelestarian bumi selatan bernama Abdul Qudus (at-Tahanawi, 1755: 1966).

Abdur Rohman adalah “maharu ismi ar-rohmān fahuwa rohmatun li al-ˋālamīna jamīˋan bihayu lā yakhruju ahadun min rohmatihi bahasabi qōbiliyati istiˋdādihi: penampakan nama Tuhan Yang Maha Pengasih, yang kasih sayang-Nya mencakup seluruh alam semesta tanpa pilih kasih. Artinya, semua makhluk Tuhan mendapatkan kasih-Nya sesuai kesiapan mereka menerima rahmat tersebut dari segi kualitas dan kuantitasnya (Rofiqul Ajam, 612: 1999). Abdur Rohim adalah “maharu ismi ar-rohīm wa huwa al-lażī yakhuṣṣu rohmatahu biman ittaqō wa alaha wa roiyallohu ˋanhu wa yantaqimu mimman ghoiballōhu ˋalayhi: penampakan nama Tuhan Yang Maha Penyayang, yang kasih sayang-Nya khusus hanya bagi setiap hamba-Nya yang bertakwa dan beramal salih serta marah pada setiap pelanggar hak-hak Allah SWT sehingga Tuhan-pun ridlo pada mereka (Rofiqul Ajam, 612: 1999). Berdasarkan kedua kedua nama tersebut: Abdur Rohman dan Abdur Rohim maka karakter utama wali awtad yang menjaga bumi timur dan bumi utara adalah berbelas kasih dan menebar kedamaian pada seluruh hamba Tuhan. Mengasihi segenap makhluk Tuhan dengan sempurna dan universal. Sempurna dengan arti selalu berniat menyayangi dan terus menerus menyayangi segenap hamba Tuhan. Universal dengan arti menyayangi mereka tanpa pilih kasih di dunia dan akhirat. Kasih sayang dengan bentuk aplikasinya yang layak sesuai kacamata syariat (al-Ghazali, 104: 2001).

Abdul Wadud adalah “man kamulat mawādatuhu lillāhi wa liawliyā’ihi jamīˋan wa alqō mahabbatahu ˋalā jamīˋi kholqihi fa ahabbahu al-kullu illā juhhāla aaqolaini: para hamba Tuhan yang cintanya pada Tuhan dan kekasih-kekasih Tuhan telah paripurna. Oleh sebab itu Allah SWT mencintai mereka, selanjutnya Allah SWT memerintahkan seluruh ciptaan-Nya untuk menciptai hamba tersebut (Rofiqul Ajam, 625: 1999).  Dalam konteks cinta Tuhan,  maka wali agung perempuan bernama Robiatul Adawiyah adalah sosok paling sempurna. sosok pecinta hakiki pada keindahan dan keagungan Tuhan yang layak padanya disematkan julukan “syahīdatu al-isyqī al-ilāhī: wali perempuan yang disaksikan kehidupannya penuh kerinduan pada Tuhan” (al-Hifni, 10: 1992).

Dalam bahasa Arab, kata “cinta” adalah terjemahan dari lafdz “al-mahabbatu”, yang di antara variasi maknanya adalah: [1] cinta adalah ismu ofā’i al-mawaddatii: sebutan bagi cinta sejati [cinta murni dari lubuk hati], dan [2] cinta adalah al-quru liluzūmi ah-użuna: anting-anting yang selalu menghiasi telinga. Dari kedua makna bahasa cinta tersebut, maka al-mahabbah dalam bahasa Arab adalah sebutan bagi sesuatu yang suci, tulus, murni, dan tanpa tendensi yang tumbuh bercokol di relung hati sanubari seseorang. Oleh sebab itu, kandungan makna cinta dalam lafadz al-mahabbatu lebih tinggi, mendalam, dan murni dari makna cinta yang terdapat dalam terma love atau amity [Inggris], amour [Perancis], amore [Italia], amor [Latin], dan liebe [Jerman]. Sedangkan dalam bahasa sufistik, terma cinta bermakna “īāru al-mahbūbi ay Allahi ˋalā kulli mā ˋadāhu, wa muwāfaqotuhu fī al-masyhadi wa al-ghoybati, wa mahwu aifāti al-insāniyati li al-muhibbi aūfī, wa ibātu al-mahbūbi [Allōhi]bi żātihi: mendahulukan Allah SWT dari selain-Nya, melakukan kemauan-Nya dan menjauhi larangan-Nya dalam kondisi ramai atau sepi, mengendalikan dan menghilangkan karakter kemanusian yang penuh nafsu angkara murka, dan hanya menjadikan Allah SWT sebagai kekasih hati,” begitulah komentar al-Junaid, tokoh dan penghulu para sufi yang bergelar sayyidu hażihi aō’ifati: penghulu dan pemimpin kalangan sufi (al-Hifni, 87: 1992).

Berdasarkan pengertian bahasa dan istilah seputar cinta di atas, maka makna cinta pada Allah SWT adalah mengagungkan-Nya dengan tidak meletakkan keagungan di atas keagungan-Nya, tidak sabar selalu ingin berjumpa dengan-Nya yang dibuktikan dengan selalu menjadikan ridlo-Nya sebagai motif utama semua aktivitas kehidupan, selalu bersemangat untuk mendekat pada-Nya, dan selalu tentram, tenang, serta nyaman ketika menyebut atau mendengar nama-Nya. Sedangkan arti cinta Allah SWT pada hamba-Nya adalah “irōdatullōhi li ‘an yakhuṣṣo al-ˋabda bi al-qurbi wa al-ahwāli al-ˋaliyati: kehendak Allah SWT untuk mengkhususkan sebagian hamba-Nya dalam kedekatan ruhaniyah dan ketinggian olah psikologi spiritual (al-Hifni, 88: 1992).

Abdul Qudus adalah “allażī qoddasallōhu ˋani al-ihtijābi falā yasmaˋu qolbuhu ghoirallāhi wa huwa allażī wasiˋa qolbuhu al-haqqa, falā yasaˋu al-haqqo illa al-qolba al-muqoddasa ˋani al-akwāni: seorang hamba yang hatinya telah disucikan Tuhan dari berbagai hijab yang menghalangi antara dia dan Dia SWT. hatinya tidak lagi terbebani fatamorgana alam semesta sebab hanya Tuhan yang menempati ruang hati spiritualnya (Rofiqul Ajam, 617: 1999). Inilah derajat kewalian, yang oleh Ibnu Arobi dalam al-Futūhātu al-Makiyah-nya disebut sebagai manusia suci yang karomahnya bisa sepadan dengan malaikat beserta keistimewaan yang Allah SWT berikan pada mereka. Manusia suci yang selalu berusaha mensucikan anggota dzohirnya dari dosa dan maksiat, serta mensucikan batin spiritualnya dengan tobat, tauhid, dan makrifat pada Tuhannya. Manusia suci yang secara makrifat dan tauhid dan kesucian rohaninya menjadi musuh utama Iblis laknatulloh alaihi (Ibnu Arobi, 296: 1999).

Wali nujaba’. Mereka adalah empat puluh wali Allah SWT, yang bertanggung jawab seputar kelayakan dan kepatutan hidup umat manusia. Mereka juga bertugas meringankan bahkan menanggung beban hidup manusia. Kedua tugas tersebut menjadi tugas para wali nujaba’ sebab secara kodrati dan fitrah, Allah SWT telah menjadikan hati spiritual mereka penuh dengan kasih sayang pada segenap hamba-Nya (al-Hifni, 255, 1987).  Sedangkan wali nuqoba’ adalah para wali Tuhan yang menguasai syariat-syariat para nabi as dan menguasai perbendaharaan ilmu seputar nafsu dari berbagai bujuk rayu dan tipuannya pada segenap hati spiritual umat manusia. Jumlah mereka di setiap waktu hanya terbatas pada tiga ratus person (Ibnu Abidin, 41: 2006).

Kedua, Karomah sebagai implikasi ruhaniyah i’rob rofak bagi mafˋūl al-lażī lam yuamma fāˋiluhu maˋahu. Dalam kacamata nahwu spiritual, rofak adalah kehormatan dan  kemuliaan yang diberikan Tuhan pada para kekasih-Nya. Kemuliaan dan kehormatan yang dalam kacamata dunia tarekat dikenal sebagai dengan istilah karomah [al-karōmatu, keramat].  Kemulian, yang bentuknya menerobos batas-batas nalar rasional dan realitas kemanusiaan [khowāriqu al-ˋādatu, nulayani adat]. Maka untuk menyempurnakan faidah pembahasan seputar “i’rob rofak” dalam konteks ini, selanjutnya secara berurutan kami ketengahkan [1] ragam bentuk khowāriqu al-ˋādatu, nulayani adat, [2] definisi karomah, dan [3] dalil-dalil seputar karomah.

Dalam khazanah sufistiksebagaimana disebutkan Ahmad al-Hanafi, ragam ragam bentuk khowāriqu al-ˋādatu, nulayani adat ada empat meliputi mukjizat, karomah, maunah, dan istidroj. Mukjizat adalah kemampuan luar biasa di luar batas manusia yang diberikan Tuhan kepada seseorang yang mengaku sebagai nabi dan rasul as. Karomah adalah kemampuan di luar batas kemanusian yang diberikan Tuhan kepada seorang wali yang menjadikan al-Quran dan al-hadits sebagai pedoman hidupnya. Maunah adalah pertolongan Tuhan yang diberikan kepada hamba-Nya yang beriman. Sedangkan istidroj adalah kekuatan supra natural yang dimiliki orang kafir, lalim, atau sesamanya yang bersumber darikegelapan syahwat, nafsu, dan setan (al-Hanafi, 202, 2006).

Secara bahasa, terma karomah bermakna kemulian. Ada juga yang mengartikan karomah sebagai talam yang diletakkan di ujung biji-bijian. Di samping juga ada yang memberi makna karomah sebagai kemulian yang diberikan Tuhan pada hamba-Nya. Sedangkan secara istilah kaum sufi, karomah berarti “perkara yang bersifat supra natural dan di luar batas kemanusiaan yang diberikan Allah SWT pada para wali-Nya” (al-Lalkai, 14: 1992).

Selanjutnya, para ulama sufi telah membuat empat kaidah pokok untuk mengetahui sebuah kejadian supranatural dan di luar batas kemanusian bersifat karomah sebagaimana berikut. Pertama, karomah harus terlahir dari seorang hamba yang  beriman dan bertakwa sebagaimana tercantum dalam ayat wilayah QS. Yunus: 62-63. “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati [62] Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa”. Kedua, adanya karomah tidak menjadikan seseorang lancang mengaku sebagai wali Tuhan. Sebab pengakuan menjadi wali Tuhan sama dengan menyucikan diri sendiri. Padahal dengan jelas, Tuhan dalam QS. An-Najm: 32 melarang seseorang mengaku bersih dari dosa, “maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci”. Ketiga, kemunculan karomah tidak menjadi faktor ditinggalkannya suatu kewajiban seperti wajibnya sholat lima waktu, puasa Ramadan, sholat jumat, dan lainnya. Keempat, kemunculan karomah tidak menjadi faktor diterjangnya larangan syariat (al-Lalkai, 34-36: 1992).

Dalam kitab suci al-Quran dan sunnah Nabi Muhammad saw banyak kita temukan ayat dan riwayat yang menerangkan seputar karomah yang diberikan Tuhan pada hamba-hamba-Nya yang terpilih. Di antara ayat al-Quran tersebut adalah ayat yang bercerita seputar Maryam as, teman Sulaiman as yang memindahkan singgasana Ratu Bilgis, cerita ibu Nabi Musa as, kisah Dzul Qornain, hikayat seputar Khidir ra, dan yang paling sepektakuler adalah cerita seputar Ashabul Kahfi. Sedangkan hadis Rasul saw seputar terjadinya “karomah” dapat kita simak dalam hadis yang bercerita tentang tiga orang yang terperangkap dalam gua, kisah Juraij: sang wali ahli ibadah yang difitnah oleh pekerja sek komersil [psk], kisah sayyidina Umar ra yang mengontak perajurit perang dari jarak jauh, dan lain sebagainya (an-Nawawi, 293-314: 2006).

Ketiga, isyaroh spiritual harokat fiil madli dan fiil mudlorik yang mabni majhul [kalimat pasif]. Telah disebutkan sebelumnya bahwa kaidah fiil madli yang dimabnikan majhul [kata kerja pasif] adalah dengan dibaca dlummah huruf awalnya dan dikasroh huruf sebelum akhirnya. Dalam kacamata nahwu spiritual, kaidah tersebut mengandung dua motivasi sekaligus. Pertama, kaidah kewajiban men-dlummah huruf pertama mengandung perintah kewajiban menghimpun dan mengumpulkan [dlummah] dua pekerjaan dalam berolah jiwa, yaitu: menghilangkan hawa nafsu [isqōu al-hawā] dan merawat cinta pada Fail Hakiki: Allah SWT [mahabbatu al-maulā]. Kedua, kewajiban meng-kasroh huruf sebelum akhir memberi makna adanya perintah kepada segenap wali-wali Tuhan, yang sebenarnya mereka adalah mandataris Tuhan di muka bumi pasca kenabian dan kerasulan [nāibu al-Fāˋil] agar selalu menghias akhlak mereka dengan kerendahan hati. Selanjutnya jika fiil yang dimabnikan majhul adalah fiil mudlorik maka huruf pertamanya juga harus dibaca dlummah sedangkan huruf sebelum akhir harus dibaca fathah. Keharusan membaca fathah tersebut dalam kacamata nahwu spiritual mengandung makna adanya perintah langit pada segenap hamba Tuhan untuk selalu meningkatkan kualitas dan kuantitas olah mujahadah, tirakat, dan riyadlohnya. Peningkatan berolah spiritual berlandaskan semangat doa QS. Toha: 20, “Dan katakanlah: Wahai Tuhanku, tambahkanlah padaku ilmu”  (Ibnu Ajibah, 283: tt).

Dalam kacamata kitab Hikam al-Ghouiyah karya Abu Madyan as-sufi, kewajiban menghimpun [dlummah], kasroh [merendahkan hati], dan fathah [terbukanya mata hati] dalam kaidah fiil mabni majhul terkristal dalam kaidah sufistik “al-muhmalu min al-ahwāli wa al-aˋmāli la yaluhu li bisāi al-haqqi: orang yang tidak menggunakan potensi batiniyah dan lahiriyahnya untuk berolah spiritual dan amal kebaikan maka tidak pantas baginya duduk di permadani kedekatan pada Tuhan”. Menurut al-Alawi, salah satu pensyarah kitab Hikam al-Ghouiyah, keterhimpunan amal batin dan lahir harus bersendikan cinta dan rindu [ommatu al-mahabbati wa as-syauqi]. Sedangkan posisi duduk di atas permadani kedekatan pada Tuhan harus disertai kerendahan hati [al-kasrotu] [Abu Madyan, 75: 1989).

Keempat, makna sufistik ragam bentuk isim yang dibaca rofak sebab menjadi mafˋūl al-lażī lam yuamma fāˋiluhu maˋahu: nā’ibu al-Fāili. Telah disebutkan bahwa mafˋūl al-lażī lam yuamma fāˋiluhu maˋahu: nā’ibu al-Fāili itu ada dua. Adakalanya isim dzohir [terlihat] dan adakalanya isim dlomir [tersimpan]. Dalam kacamata nahwu spiritual, kedzohiran dan kedlomiran tersebut memiliki dua sudut pandang. Pertama, sudut pandang keterkenalan dan kemasyhuran seorang wali Tuhan yang sejatinya adalah mandataris Fail Hakiki [nā’ibu al-Fāili]. Kedua, sudut pandang karomah para wali Tuhan.

Dalam sudut pandang pertama,  nā’ibu al-Fāil yang dzohir dikenal sebagai “wali masyhur” al-wal al-masyhūru”, yang diketahui kewaliannya oleh orang lain dan terkenal di tengah-tengah masyarakat. Sedangkan,nā’ibu al-Fāil yang dlomir adalah para kekasih Tuhan yang derajat kewaliannya hanya diketahui oleh segelintir hamba Tuhan atau bahkan hanya Tuhan yang tahu bahwa dia adalah wali-Nya. Wali tipe kedua ini disebut wali yang tertutup: wali mastur: al-walī al-mastūr. Para wali yang tidak viral di bumi namun viral di langit (Ibnu Ajibah, 283: tt). Sosok nā’ibu al-Fāil yang dzohir terlihat jelas dalam sosok Syekh Abdul Qodir al-Jilani ra di tanah Bagdad dan Wali Songo di tanah jawa. Sedangkan nā’ibu al-Fāil yang dlomir dapat kita identivikasi dalam sosok Uwais al-Qorni: sosok Tabiin dari Yaman, yang hidup dalam keserba sederhanaan bahkan kekurangan, yang pada dirinya Rasul SAW bersabda, “tabiin yang paling baik adalah seorang pria bernama Uwais” (Muslim, 442, 2011). Selanjutnya, cerita mengenai wali agung Uwais al-Qorni dapat pembaca nikmati dalam kitab berjudul Uwais al-Qorni ra: Haqīqotan Tārīkhiyyatan karangan Ahmad bin Husain.

Terakhir, sudut pandang dzohir dan dlomirnya nā’ibu al-Fāi ldalam arti karomah. Menurut Ibnu Ajibah, para wali Tuhan, yang sejatinya mereka adalah nā’ibu al-Fāil, maka kemunculan karomah bagi mereka bersifat jaiz [boleh, bukan wajib]. Oleh sebab itu, masih menurut Ibnu Ajibah, banyak dari wali Tuhan yang tidak tampak karomah dari mereka sebagaimana juga banyak wali Tuhan karomah menjadi penghias perjalanan spiritual mereka pada Tuhan Yang Maha Kuasa (Ibnu Ajibah, 283: tt). Maka benar sekali ketika para kekasihTuhan tersebut tidak menjadikan karomah sebagai tujuan ibadah. Namun proses terus-menerus dalam istikomah adalah jalan spiritual yang mereka tempuh sebagaimana diungkap al-Qusyairi mengutip perkataan Abu Ali al-Jurjani, “kun ōhiba al-istiqōmati, lāōliba al-karōmati. Fa in nafsaka mutaharrika tanfīolabi al-karōmati, warobbuka azza wajalla, yuōlibuka bi al-istiqōmati: jadilkanlah dirimu orang yang beristikomah, bukan pemburu karomah. Ingatlah, jika nafsumu menuntutmu memburu karomah, maka sejatinya Tuhanmu menuntutmu untuk selalu istikomah” (al-Qusyairi, 357: tt). Wallahu Aˋlamu Bi aowabu.

Al-hamdulillah, bersambung pada bagian XX integrasi nahwu spiritual dengan nahwu gramatikal seputar “al-iōfatu: al-muōfuwa al-muōfuilaihi”. 09.00 WIB, Rabu 08 November 2017 di STAI al-HikamTulusrejo, Lowokwaru, Kota Malang. Saya persembahkan sedikit usaha integrasi ini pada segenap sahabat-sahabatku di PESMA dan STAI al-HIKAM Malang angkatan tahun 2008-2012. Sahabat-sahabat maf’ulbih yang sedang berusaha menjadi nā’ibu al-Fāil dengan wasilah optimalisasi kesalihan individual dan kesalihan sosial: salih untuk dirinya sendiri dan muslih untuk agama, bangsa, dan kemanusiaan. Semoga motto pesantren al-Hikam, “Amaliah agama, Prestasi ilmiah, dan Kesiapan hidup” tetap terpatri didalam lubuk sanubari kita. Motto yang menjadi spirit para penerus perjuangan Abah Ahmad HasyimMuzadi. Al-Faatihah, ilaruhisyaikhiwamurobbi Ahmad HasyimMuzadi !!!

Daftar Rujukan

Abu Royyan, Muhammad, Uūlu al-Falsafatu al-Isyrōqiyah, Cet. II, Beirut: Darut Tolabah al-Arob, 1969.

Ajam, Rofiqul, Mausuˋatu Muṣṭolahātu at-taowwuf al-Islāmi, Beirut: Maktabah Libnan, 1999.

Al-Alawi, Ahmad, al-Mawād al-Ghoiiyati an-Nāsyiāti Min Hikam al-Ghouiyati, Vol. II, Cet. II, Mustaghonam: Matbaah al-Alawiyati, 1989.

Al-Ghazali, al-Maqōdu al-Asnā Fī Syarhi Asma’i al-Husnā, Qohiroh: Maktabah al-Quran, 2001.

Al-Hanafi, Ahmad, Hidāyatu al-Ażkiyā’, Cet. I, Qohiroh: Darul Asar al-Islamiyah, 2006.

Al-Hifni, Abdul Mun’im, Mu’jam Muṣṭolahātu aūfiyyah, Bairut: Darul Masiroh, 1987.

………………………………., Rōbiˋatu al-Adāwiyatu: Imāmatu al-ˋāsyiqīna wa al-Mahzūnīna, Cet. II, Qohiroh: Darur Rosyad, 1992.

Al-Lalkai, Hasan Tobari, Karōmatu Awliyā’illāhi Ta’ālā, Cet. I, Riyad: Daru Toyyibah, 1992.

Al-Qusyairi, ar-Risālatu al-Qusyairiyatu, Qohiroh: Darus Syu’bi, tt.

an-Nawawi, Bustānu al-ˋĀrifīna, Cet. VI. Beirut: Syirkah Darul Basyair al-Islamiyah, 2006.

As-Sonhaji, Muhammad, Matnu al-Ajurūmiyah, Riyad: Daru as-Somi’i, 1998.

As-Syarqowi, Hasan, Muˋjamu Al-Fāi aūfiyati, Cet. I, Qohiroh: Muassasah al-Mukhtar, 1987.

Ibnu Abidin, Ijābatu al-Ghou, Cet. I, Qohiroh: Maktabah Qohiroh, 2006.

Ibnu Ajibah, Syarhu al-Futūhāt al-Qudsiyah Fī Syarhi al-Muqoddimati al-Ajurūmiyati, Magrib: Darul Baido’, tt.

Ibnu Arobi, al-Futūhātu al-Makiyah-nya, Vol. VII, Cet. I, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, 1999.

Muslim, Ṡohīhu Muslimi, Vol. II, Cet. IV, Libanon: Darul Kutub al-Islamiyah, 2011.