Bābu al-Af’āl

JelajahPesantren.Com – Bābu al-Af’āl: Waktu, dalam Sudut Pandang Kaum Sufi. Dengan sangat ringkas Kyai Sonhaji menyatakan dalam Matan al-Jurumiyahnya yang sangat masyhur bahwa “fiil itu ada tiga macam”: fiil madli, mudlori’, dan amar seperti dalam contoh oroba, yaribu, irib [sudah memukul, sedang dan akan memukul, pukullah]. Harokat dasar fiil madli adalah mabni fath [nashob], harokat asal fiil amar adalah dibaca sukun [sukun], sedangkan harokat fiil mudlori’ adalah dibaca rofa’ [dlommah] dengan syarat tidak kemasukan amil nashob atau amil jazem. Adapun ciri paling spesifik dari fiil mudlori’ adalah adanya penambahan salah satu dari huruf alif, nun, ya’, dan ta’, yang biasanya dirangkai dalam singkatan “anaytu” (as-Sonhaji, 7, tt).

Dalam bahasa Arab, di antara makna dari terma al-fi’lu adalah perbuatan (Atabik, 1400:tt), yang sebenarnya memiliki kesamaan dalam pemaknaan terma fiil dalam Bahasa Indonesia: perbuatan, tingkah laku, dan perangai (Ebta Setiawan, KBBI Ofline: 2010). Sedangkan dalam peristilahan nahwu gramatikal, fiil itu sendiri bermakna “lafadz yang menunjukan arti perbuatan dalam suatu waktu: lampau, sedang, atau akan datang” (Jumah, 13: 2006). Kata kerja yang menunjukkan terjadinya suatu pekerjaan pada masa lampau [past tense] dinamakan fiil madli. Kata kerja yang menunjukkan terjadinya suatu pekerjaan yang sedang terjadi [present tense] atau akan dilakukan di masa yang akan datang [future tense] dinamakan fiil mudlori’ (al-Gholayini, 33: 1993). Sedangkan kata kerja yang dipergunakan untuk mewujudkan suatu pekerjaan pasca adanya suatu perintah disebut dengan fiil madli (Jumah, 13: 1422 H).

Berdasarkan kajian nahwu gramatikal di atas, maka kajian seputar nahwu spiritual pada kesempatan kali ini akan menyajikan [1] pembagian perbuatan [al-fi’lu] menurut para sufi, [2] hikmah spiritual dalam kandungan waktu setiap perbuatan [zamanu al-fi’li], [3] adab waktu dalam kacamata spiritual, dan [4] hikmah i’rob fiil dalam nahwu spiritual.

Pertama, pembagian perbuatan [al-fi’lu] menurut para sufi. Berdasarkan tiga pembagian waktu terjadinya suatu pekerjaan atau peristiwa, maka para sufi mengisi setiap waktu mereka berdasarkan pandangan mereka pada silih bergantinya waktu itu sendiri. Artinya, golongan sufi yang fokus perjalanan spiritualnya adalah berintropeksi pada setiap perbuatannya di masa lalu, maka dia akan merasakan kecemasan yang dahsyat perihal amalnya tersebut. Cemas, sebab adanya ketakutan tidak diterimanya setiap amal baik sedangkan silih bertambahnya umur terus menumpuk pundi pundi dosa. Kebalikan dari kelompok pertama adalah segolongan sufi yang memfokuskan pandangan spiritualnya pada posisi akhir kehidupannya: husnul khotimah atau suul khotimah. Akhirnya, fokus perjalanan spiritualnya roja’ [penuh harap pada rahmat Allah SWT]. Adapun kelompok terakhir adalah segolongan sufi yang tidak terlalu memusingkan berlalunya masa dan masa yang akan datang. Fokus mereka adalah gerak nafas hidup mereka, bukan sebelum atau sesudah nafas itu berlalu. Maka fokus prilaku sufistik golongan ketiga tersebut adalah mengisi setiuap nafas mereka dengan  berbagai dimensi kebaikan.

Para sufi – menurut Ibnu Ajibah ra- boleh berbeda dalam fokus perjalanan spiritual mereka, namun mereka tidak boleh berbeda dalam menyikapi makna sufistik fiil amar [kalimat perintah] dan fiil nahi dari mutaaddi [kalimat larangan]. Artinya, semua sufi harus sepakat dalam istikomah [mulazamah] mengikat diri dengan semua perintah syariat. Sebagaimana mereka harus siap sedia meninggalkan larangan syariat (al-Maqdisi, 28: 2006)

Kedua, hikmah spiritual dalam kandungan waktu setiap perbuatan [zamanu al-fi’li]. Menurut al-Maqdisi [W. 678 H)] sudut pandang lain dari filsafat sufistik masa terjadinya suatu pekerjaan [zamanu al-fiˋli] adalah [1] barang siapa memperhatikan kembali berbagaiaktivitasnya di masa lalu dari yang positif sampai negatif pasti akan hanyut dalam penyesalan. Menyesal sebab telah melakukan kesalahan, dan menyesal sebab belum totalitas dalam melakukan kebaikan. “man naoro ilā fiˋlihi waqoˋa fī an-nadami: barang siapa mengoreksi ulang amal perbuatannya niscaya jatuh dalam penyesalan,” begitu ungkapan sufistik mereka; dan [2] barang siapa berakhlak dengan dua huruf tambahan di awal fiil mudlori’ niscaya akan hidup penuh kehinaan. Sebagaimana barang siapa berprilaku dengan dua tambahan lain dari huruf tambahan fiil mudlori’ niscaya akan hidup penuh ketentraman. Dua huruf tambahan yang membawa petaka kehidupan adalah [a] huruf alif simbol keakuan, ke-egoan, dan kesombongan individual; dan [b] huruf nun simbul keangkuhan dan kesombongan kolektif, lembaga, dan kelompok. Maka siapapun yang melakukan atau akan melakukan ibadah kemudian dengan angkuh berani berkata: “inilah saya, inilah kami. Hanya kami yang bisa melakukan. Yang lain tidak bisa”, niscaya telah menyodorkan dirinya pada kehancuran. Adapun dua huruf tambahan di awal fiil mudlori’ yang menyelamatkan hidup seseorang adalah [a] huruf ya’ simbul kerendahan diri seorang hamba di hadapan kuasa Tuhannya; dan [b] huruf ta’ simbul pengakuan seorang hamba pada keagungan dan kedigdayaan Tuhannya. Maka barang siapa melakukan sebuah kebaikan kemudian menyandarkan kebaikan itu hanya murni atas kuasa Tuhan, maka sungguh dia akan mendapat hasil terbaik (al-Maqdisi, 28-29: 2006)

Ketiga, adab waktu dalam kacamata spiritual. Menurut Ibnu Ajibah ra setiap akan, ketika, atau sudah melakukan sesuatu seorang hamba harus berakhlak dengan silih bergantinya waktu itu sendiri. Pertama, akhlak pada perbuatan yang telah lalu adalah melupakannya. Namun jika masih teringat berbagai kebaikan di masa lalu, maka harus disikapi dengan persaan penuh syukur dan pujian pada Tuhan. Sebaliknya jika teringat perbuatan dosa, maka hendaknya cepat beristigfar penuh penyesalan. Kedua, akhlak pada perintah yang terkandung dalam fiil amar [kalimat perintah] adalah dengan mempertebal keyakinan bahwa semua kesempatan dan kekuatan seorang hamba dalam melakukan kebaikan adalah murni karunia Tuhan. Sehingga terlahirlah profesionalisme sufistik dalam proses menjalankan setiap perintah syariat. Ketiga, akhlak ketika atau sedang melakukan suatu perbuatan adalah dengan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, jangan sampai satu nafas terlepas tanpa dimensi kebaikan yang menyertainya; di samping berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan (Ibnu Ajibah, 256: tt).

Keempat, hikmah i’rob fiil dalam nahwu spiritual. Seperti telah disebutkan bahwa i’rob fiil madli adalah manshub [ditegakkan], maka para sufi sadar bahwa setiap amal perbuatan mereka di masa lalu ada di antara salah satu neraca timbangan keadilan dan karunia Tuhan [ˋadluhu wa faluhu taˋālā]. Artinya jika neraca keadilan Tuhan yang lebih berat maka sedikit sekali seorang hambaakan selamat dari siksa Tuhan. Sebaliknya jika neraca karunia Tuhan lebih unggul dari neraca keadilan Tuhan, maka sungguh kebahagian telah menanti seorang hamba di alam surgawi. Selanjutnya, setiap fiil mudlori’ hukum asalnya adalah dibaca rofa’. Artinya, hukum rofa’ bisa hilang bila kemasukan faktor-faktor yang menashobkan atau menjazemkan. Dalam neraca nahwu spiritual, setiap sufi yang mampu mengoptimalkan waktunya adalah sufi yang marfu’ul qodrii [mulia derajatnya]. Namun perlu diketahui bahwa kemulian itu bisa hilang jika dalam proses optimalisasi waktu terlaksananya amal kebaikan, prilaku ibadah seorang sufi terpengaruh dua faktor: faktor jazem dan faktor nashob. Faktor nashob adalah setiap jebakan dan bujuk rayu yang dipasang hawa nafsu. Sedangkan factor jazem adalah bisikan, rayuan, dan tipu muslihat setan yang bersamayam di dalam dada manusia (al-Maqdisi, 29: 2006). Wallōhu Aˋlamu bi Aowābi

Al-hamdulillah, bersambung pada bagian XXIV integrasi nahwu spiritual dengan nahwu gramatikal seputar “Berbagai Faktor Yang Menashobkan dan Menjazemkan Fiil Mudlori’”. Kepanjen, 10.10 WIB, Jumat 05 Januari 2018di kelas PAI [B] PAI-FIK-UNIRA Malang. Saya persembahkan sedikit integrasi ini kepada semua mahasiswa PAI I [B], para mahasiswa yang penuh idealisme membangun masa depan penuh keberkahan ilmu dalam diskusi nalar kelas filsafatAmin bijahi sayyidil mursalin wa imamil muttaqin, Muhammad rosulil amin. Al-Fatihah.

Daftar Pustaka

Ibnu Ajibah, Syarhu al-Futūhāt al-Qudsiyah Fī Syarhi al-Muqoddimati al-Ajurūmiyati, Magrib: Darul Baido’, tt.

Al-Maqdisi, Izzuddin, Talkhīu al-Ibāroti Fī Nahwi Ahli al-Isyāroti, Libanon: Darul Kutub al-Ilmiyah, 2006.

As-Sonhaji, Matnu al-Jurūmiyyati, Demak: Penerbit Kota Wali, tt.

Ali, Atabik dan Muhdlor, Ahmad Zuhdi, al-’Ari: Kamus Kontemporer Arab-Indonesia, Yogyakarta: Multi Karya Grafika, tt.

Setiawan, Ebta, KBBI Ofline, Versi 1.1, 2010.

Jumah, Imad Ali, an-Nahwu wa aorfi al-Muyassari, Saudi Arobia: Maktabah malik Fahd, 2006.

al-Gholayini, Mustofa, Jāmiˋu ad-Durūs al-ˋarōboyati, Vol. II, Bairut: Maktabah al-Asriyah, 2011.