Pesantren Wisata

JelajahPesantren.Com – Pesantren eksis dan kekinian di era digital membuktikan bahwa masyarakat pesantren (Pimpinan dan pengurus, santri, alumni, walisantri dan masyarakat sekitar pesantren) terus berbenah seiring perubahan zaman. Ini merupakan salah satu kunci sukses eksistensi pesantren, kemampuan berbenah dalam menghadapi perubahan. Ilmu manajemen sering membahas perubahan karena salah satu outputnya adalah well managed. Dalam konteks ini, fungsi pesantren bisa dikembangkan, salah satunya adalah gagasan pesantren wisata. Adalah sebagai aksi peneguhan eksistensi pesantren yang sarat dengan fungsi sentral dalam sejarah ke-Islaman dan ke-Indonesiaan. Karena pesantren merupakan ciri khas Islam Indonesia.

Wonderful Indonesia as Halal Tourist Destination (Keindahan Indonesia sebagai Destinasi Wisata Halal) adalah slogan yang terus disosialisasikan oleh Kementrian Pariwisata RI di era Kabinet Kerja Jokowi-JK.  Wisata halal yang sudah menjadi trend masyarakat dunia, harus segera sosialisasikan dan dipersiapkan secara lebih serius, karena berkaitan dengan kebutuhan masyarakat luas. Dan harus ditumbuhkembangkan menjadi  sebuah entitas bisnis yang siap memanfaatkan niche market industri wisata secara keseluruhan.

Indonesia sebagai negara muslim terbesar dunia memiliki ribuan pesantren yang tersebar ke berbagai pelosok nusantara. Adapun definisi pesantren sebagai lembaga pendidikan memiliki 5 elemen pokok; (1) Pondok atawa asrama: adalah tempat tinggal bagi para santri. Pondok inilah yang menjadi ciri khas dan tradisi pondok pesantren dan membedakannya dengan sistem pendidikan lain yang berkembang di Indonesia, (2) Masjid: merupakan tempat untuk mendidik para santri terutama dalam praktik seperti shalat, pengajian kitab klasik, pengkaderan kyai, dan lain-lain, (3) Pengajaran kitab-kitab klasik: merupakan tujuan utama pendidikan di pondok pesantren, (4) Santri: merupakan sebutan untuk siswa atau murid yang belajar di pondok pesantren, dan (5) Kyai: merupakan pimpinan pondok pesantren. Kata kyai sendiri adalah gelar yang diberikan masyarakat kepada seorang ahli agama Islam yang menjadi pimpinan pesantren dan mengajarkan kitab-kitab klasik. (Tradisi Pesantren : Zamakhsyari Dhofier, 1982).

Dari kelima ciri tersebut tersimpan banyak potensi yang bisa dikembangkan dari dunia pesantren. Salah satu yang berpotensi dikembangkan adalah pesantren sebagai destinasi wisata halal. Hal ini prasayarat utama adalah harus seiring dalam memperkuat fungsi pesantren sebagai lembaga pendidikan dengan misi utama penguatan pemahaman keagamaan (tafaqquh fiddin). Sebagai destinasi wisata halal, pesantren wisata bisa menjadi publisitas yang marketable dan berkelanjutan.

Dari narasi diatas “Wonderful Indonesia as Halal Tourist Destination” dan “pesantren” serta pengembangan potensi pesantren sebagai destinasi wisata halal memunculkan sebuah ide, Pesantren Wisata. Adalah Pesantren Annur 2 Bululawang Kabupaten Malang yang sedang serius mengembangkan konsep yang applied ihwal Pesantren Wisata. Muasal ide Pesantren Wisata berasal dari ndalem yang tentunya didukung shareholder dan stakeholder Pesantren Annur 2 Bululawang Kabupaten Malang. Dan tentu masyarakat sekitar pesantren harus diteguhkan keterlibatannya.

Pesantren Wisata sebagai Destinasi

Destinasi merupakan suatu tempat yang dikunjungi dengan waktu yang signifikan selama perjalanan seseorang dibanding dengan tempat lain yang dilalui selama perjalanan. Definisi destinasi wisata menurut Ricardson dan Fluker (2004) “A significant place visited on a trip, with some form of actual or perceived boundary. The basic geographic unit for the production of tourism statistics.” Dari pengertian ini pesantren bisa dikategorikan sebagai destinasi, karena signifiakannya waktu berkunjung saat orang bermobilisasi dari suatu titik ke titik lain (pesantren). Hanya selama ini destinasi yang dimaksud bukan dalam rangka berwisata, tapi keperluan lainnya. Tinggal bagaimana konsep tourism dipersiapkan dalam rangka pengembangan pesantren wisata.

Suatu destinasi yang dikunjungi, wisatawan dipandang sebagai sosok konsumen sementara. Tentunya mereka akan mengeluarkan sejumlah uang (spend of money) untuk keperluan selama di lokasi dan ihwal yang diperlukan untuk dibawa pulang. Tentunya ini akan berdampak positif bagi perekonomian, yaitu dampak pendapatan masyarakat, kesempatan kerja, pendapatan pemerintah lokal dan multiplier effects lainnya.

Kusdianto (1996), secara spesifik mengelompokkan destinasi wisata berdasarkan ciri-ciri sebagai berikut: (1) Destinasi sumber daya alam, seperti iklim, pantai, hutan; (2) Destinasi sumber daya budaya, seperti tempat bersejarah, museum, teater, dan masyarakat lokal; (3) Fasilitas rekreasi, seperti taman hiburan, park buatan; (4) Even seperti pesta kesenian Bali, Pesta Danau Toba, Pasar Malam; (5) Aktivitas spesifik, seperti Singapore Shoping Festival, Jakarta Shoping Festival, Surabaya Shoping Festival; (6) Daya tarik psikologis, seperti petualangan, perjalanan romantis, keterpencilan dan wisata edukasi.

Merujuk kelima ciri destinasi tersebut, Pesantren Annur 2 Bululawang Malang, penggarapannya bisa bertahap dengan memilih ciri diatas sesuai dengan kekuatan yang telah dimiliki sekarang. Satu hal, muasal ide Pesantren Wisata berasal dari ndalem adalah modal dasar yang luar biasa untuk proses implementasi dan aksi.

Kamu, iya kamu, mahasiswa Unira Malang yang terkonsolidasi KKN-T 2018 Kelompok 007 dan “bukan kebetulan” adalah santri, bahkan pengurus Pondok Pesantren Annur 2 Bululawang berada dalam pusaran ide besar ini. Satu tujuan banyak aksi, harapan pengasuh yang penulis tangkap ketika serah terima mahasiswa KKN-T. Sebuah seremonial sederhana yang khidmat dan didoakan langsung dengan Romo Yai, pengasuh (KH.DR. Fathul Bari, SS.,M.Ag) di teras pada Sabtu, 3 Pebruari 2018 sore hari. Mendung tipis-tipis sore itu seolah menjadi saksi peneguhan harapan sang kyai kepada santri. Sungguh ini adalah sebuah momentum yang tidak boleh mbleset dalam hitungan seper sekian detik. Selamat beraksi, berkhidmat dalam satu tujuan Pesantren Wisata sahabat-sahabatku, mahasiswa Unira Malang yang terkonsolidasi KKN-T 2018 Kelompok 007. Akhirnya, Wallōhu Aˋlamu bi Aṣ-Ṣowābi.