integrasi nahwu

JelajahPesantren.Com – an-Naˋtu Aw aifatu: Perbaiki Sifatmu! Untuk lebih mempersingkat pembahasan nahwu gramatikal dalam pembahasan naat atau sifat, maka kajian kali ini hanya akan merujuk pada bab naat atau sifat menurut Ibnu Malik dalam Khulāotu Alfiyati Ibni Mālik sebagaimana berikut:

يَتْبَعُ في الإعْرَابِ الأَسْمَاءَ الأُوَل نَعْتٌ وَتَوكِيْدٌوَعَطْفٌ وَبَدَل

Lafadz yang mengikuti pada lafadz sebelumnya dalam segi i’robnya ada empat: naat, taukid, athof, dan badal.

Adapun fungsi utama dihadirkannya tarkib na’at dalam suatu pembicaraan adalah: [1} litawīhi manˋūtihi: menjelaskan man’ut, jika terdiri dari isim makrifat; dan [2] litakhīi manˋūtihi: mengkhususkan man’utnya jika terdiri dari isim nakiroh.

فَالنَّعْتُتَابِعٌ مُتِمٌّ مَا سَبَقْبِوَسْمِهِأَو وَسْمِ مَا بِهِ اعْتَلَقْ

Naat adalah lafadz yang mengikuti lafadz sebelumnya [man’ut] sebagai penyempurna man’utnya dengan menjelaskan satu dari berbagai sifatnya, atau sifat lafadz yang berhubungan dengannya.

Berdasarkan nadzom di atas, dapat disimpulkan bahwa na’at itu ada dua macam: naat hakiki dan naat sababi. Naat hakiki adalah naat yang menjelaskan salah satu dari sifat man’utnya. Tanda paling tegas dari naat ini adalah merofakkan isim dlomir yang kembali pada man’utnya. Sedangkan naat sababi adalah naat yang menjelaskan sifat lafadz yang ada hubungannya dengan man’ut. Adapun tanda paling jelas dari naat tipe ini adalah merofakkan isim zohir.

فَليُعْطَفِي التَّعْرِيفِ وَالتَّنْكِيرِ مَالِمَا تَلاَكَامْرُرْ بِقَومٍ كُرَمَا

وَهْوَ لَدَى التَّوحِيدِ وَالتَّذْكِيرِ أَو سِوَاهُمَاكَالفِعْلِ فَاقْفُ مَا قَفَوا

Dua nadzom di atas menerangkan bahwa naat hakiki harus mengikuti man’utnya dalam empat dari sepuluh perkara, yaitu: 1] i’rob [rafa’, nashab, dan jar], 2] mufrod, tasniyah, dan jamak, 3] nakiroh dan makrifat, dan 4] mudzakar dan muannasnya. Sedangkan naat sababi harus mengikuti man’utnya dalam dua dari likma perkara, yaitu: 1] i’rob [rofak, nashob, dan jar], serta 2] nakiroh dan makrifat seperti dalam contoh di bawah ini:

Contoh No
Naat Sababi Naat Hakiki
ٍ إٍحْتَرَمْتُ رجلًا معلِمًا جميعُ أولادِهِ بسمٍ اللهِ الرحمنِ الرحيمِ 1
Saya menghormati seorang pria yang seluruh putranya mengajar Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
فَاحْتَرَمَنِيْ الناسُ الحسنةُ أخلاقُهُمْ إٍحْتَرَمْتُ محمدًا الصالحَ 2
maka saya dihormati orang-orang yang bagus akhlaknya Saya menghormati Muhammad yang salih
قامَ مُديرُ المعهدِ الثاقبِ رَأْيَهَ بِإدلَاءِ توجيهَاتِهِ إِحْتَرَمَ تلميذٌ مجتهدٌ أستاذًا مخلصةً نيتُهُ في التدريسِ 3
Pengasuh pesantren yang jitu pendapatnya itu telah menyampaikan arahan-arahannya Murid yang rajin menghormati guru yang ikhlas niatnya ketika mengajar

 

وَنَعْتَ مَعْمُولَيوَحِيدَي مَعْنَىوَعَمَلٍ أَتْبِعْ بِغَيرِ اسْتِثْنَا

Jika ada dua man’ut yang menjadi ma’mul dari dua amil yang sama dalam arti dan pengamalannya maka na’at wajib di-itba’kan [diikutkan man’ut dalam segi i’rob], tidak boleh di-qotho’ seperti dalam contoh: فَرِحْتُ بخالدٍ وَسُرِرْتُ بأخِيهِ السَالكًيْنِ فِي جَادَةِ الطَريقِ [saya bergembira dengan kholid dan saudaranya yang berjalan di jalan yang benar] (Maftuhin, 88-97: tt).

Berdasarkan kajian nahwu gramatikal di atas, maka pembahasan seputar nahwu spiritual kali ini akan disajikan dalam dua materi: tasawuf, dan kaidah fikih.

Pertama,pembahasan seputar integrasi nahwu gramatikal dengan nahwu spiritual [tasawwuf] dalam konteks na’at dan man’ut ini berpijak pada isyaroh sufistik al-Qusyairi dalam Nahwu al-Qulūb aoghīr,an-naˋtu tābiˋun li al-manˋūti wa al-wafu tābiˋun li al-mauūfi. Każālika afˋālu al-ˋabdi lā tufāriquhu, wa mā haṣṣola min khoyrin aw syarrin fahuwa lāhiquhu: na’at itu mengikuti man’ut layaknya sifat mengikuti mausuf. Seperti itupula, amal perbuatan seorang hamba tidak akan pernah terpisah darinya: setiap kebaikan atau kejelekan yang dilakukannya niscaya akan mengikutinya(al-Qusyairi, 45: tt).

Menurut Rasulillah saw, amal perbuatan seorang hamba adalah kawan setia yang akan menemaninya dikesendirian alam kubur. Menurut Rasul saw “ada tiga perkara yang mengikuti mayat sampai liang lahat, yaitu keluarga, harta, dan amal perbuatannya. Dua perkara kembali ke rumah duka. Satu sisanya menemani mayat di liang lahatnya. Dua yang kembali kerumah duka adalah keluarga dan hartanya. Sedangkan satu yang setia bersamanya adalah amal perbuatannya” (Muslim, 609: 2011).Amal perbuatan yang mengikuti hamba tersebut – menurut Rasulillah saw – akan berubah bentuk: menjadi makhluk indah, mempesona, dan berbau harum semerbak jika amal tersebut baik. Sedangkan amal buruk akan berubah menjadi makhluk seram, menakutkan, dan berbau tidak sedap. Amal baik akan menjadi teman yang selalu menghiburnya. Sedangkan amal jelek akan menjadi teror setiap saat baginya (al-Qurtubi, 501: 1425 H).

Menurut al-Qurtubi [W. 671 H], mengutip sebuah hadis Rasul bersumber dari Ibnu Abbas ra, yang secara berjamaah diriwayatkan oleh para imam hadis: al-Bukhori, Muslim, Nasa’i, dan Turmudzi, “Sesungguhnya Rasulillah saw bersabda: permulaan amal perbuatan seorang hamba yang dihisab adalah sholat. Sedangkan permasalahan yang pertama kali diputuskan di antara manusia adalah permasalahan yang berhubungan dengan darah”(al-Qurtubi, 663: 1425 H). Sholat menjadi pertanggung jawaban pertama seorang hamba di hadapan Tuhan, sebab sholat adalah ibadah individual dan vertikal: antara seorang hamba dengan Tuhan, yang menempati urutan pertama pasca bersyahadat dalam rukun Islam yang lima [arkānu al-Islāmi]. Sedangkan permasalahan seputar pengaliran darah menjadi pertanggung jawaban sosial pertama seorang hamba di hadapan Tuhan, sebab kehormatan darah menempati posisi pertama pasca kewajiban menjaga agama sebagaimana tertuang dalam tujuan disyariatkannya Islam yang lima [al-maqōidu as-syarˋiyyatu al-khomsatu]: menjaga agama, menjaga jiwa, menjaga akal, menjaga keturunan, dan menjaga harta.

Bahkan dalam konteks mutu dan kesahihan sholat, Rasulillah saw pernah bersabda, “amal perbuatan manusia yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah sholat. Rasulilillah saw bersabda: “Tuhan kami Azza Wa jalla berfirman pada para malaikat, lihatlah sholat hamba-Ku, apakah dia menyempurnakannya atau menguranginya? Jika sholatnya sempurna, maka Aku akan mencatatnya sempurna. namun jika kurang, maka Allah berfirman:telitilah, apakah hamba-Ku punya [koleksi] sholat sunah? Jika dia punya sholat sunah, maka Allah berfirman: sempurnakan kekurang sholat fardlu hamba-Ku dengan sholat sunahnhya” . Hadis riwayat Abu Daud. Hadis ini oleh an-Nasai dinilai sebagai hadis hasan-ghorib (al-Qurtubi, 666: 1425 H).

Pertanyaannya: Apakah sholat lima waktu kita sudah tepat waktu, genap lima waktu, dan sempurna syarat serta rukunnya?; Apakah sholat kita sudah khusyu’ dan khudur?; Apakah sudah melampaui kefardluan menuju istikomah berbagai sholat sunah?; Apakah sudah kita lakukan dengan berjamaah?; Bahkan apakah sholat fardlu dan sunah kita sudah bisa mencegah kita dari perbuatan keji dan mungkar sebagaimana firman Tuhan dalam QS. Al-Angkabut: 45, “Sesungguhnya sholat bisa mencegah dari perbuatan keji dan munkarí”. Semoga Allah SWT selalu memberi kita hidayah, taufik, dan maunah-Nya agar kita bisa menjawab dengan sempurna semua pertanyaan tersebut. Amin ya Robbb.

Jika al-Qusyairi menitik beratkan integrasi nahwu spiritual dengan nahwu gramatikal pada aspek amal perbuatan manusia: baik atau buruk beserta pahala atau siksanya, maka al-Maqdisi [678] menitik beratkan integrasinya pada sifat Tuhan dan sifat makhluk sebagaimana ungkapannya dalam Talkhīu al-Ibāroti Fī Nahwi Ahli al-Isyārotiberikut “fa lammā waofūhu bimā yalīqubi ar-rubūbiyyati, ittaofū bimā yalīqubi bi al-ubūdiyyati: ketika para ulama spiritual [sufi] menyifati Tuhan dengan sifat yang sesuai dengan makam ketuhanan, maka mereka menyifati diri mereka dengan sifat yang sesuai dengan makam penghambaan” (al-Maqdisi, 34: 2006).

Dalam Muˋjam Iṣṭilāhatu aūfiyyatu karangan al-Kasyani [730 H], narasi al-ubūdiyyatu [penghambaan] di terangkan secaraber-urutan dengan terma al-ibādatu, al-ubūdiyyatu, al-ubūdatu, al-ˋabādilatu, dan terakhir ˋabdullōhi. Dua terma terakhir berlaku sebagai subjek. Sedangkan tiga sisanya berlaku sebagai sifat sekaligus tingkatan pelaku beribadah. al-Ibādatu adalah totalitas diri dalam kehinaan di hadapan Allah swt, yang dilakukan masyarakat umum. al-Ubūdiyyatu adalah ibadah yang dilakukan oleh golongan khusus dengan cara memurnikan dan mensahihkan niat suluk mereka hanya pada Allah SWT semata. Sedangkan al-ubūdatu adalah ibadah yang dilakukan oleh golongan super spesial. Dalam beribadah nafsu golongan ini telah mampu bersaksi bahwa kekuatan beribadah yang mereka lakukan hanya murni atas pertolongan Allah swt. Dalam narasi lain disebutkan: “mereka menyembah Allah swt dengan cahaya Allah swt itu sendiri, dengan tetap sadar bahwa ada garis tegas pemisah antara dirinya dengan Tuhannya”. Selanjutnya al-ˋabādilatu adalah para pemilik spiritual ketersingkapan berbagai rahasia spiritual nama-nama Tuhan yang indah [al-Asmā’u al-Husnā], yang menghiasi sifat kemanusian mereka dengan berbagai cahaya petunjuk yang tersurat atau tersirat dalam nama-nama Tuhan tersebut. Dengan bahasa lain, mereka adalah manusia-manusia yang pandangan hidup dan berprilakunya berdasarkan petunjuk salah satu dari nama-nama Tuhan yang indah. Sedangkan ˋabdullōhi adalah seorang hamba yang mendapatkan anugerah penyingkapan semua rahasia nama-nama Tuhan. Oleh sebab itu, maka dia menjadi hamba Tuhan yang paling mulia dan agung, tiada seorangpun yang kemuliaan dan keagungannya melebihi dirinya.  Berdasarkan predikat tersebut, maka yang berhak menyandang gelar ˋabdullōhi secara hakiki hanya baginda Rosulillah saw dan para wali qutub setelahnya. Inilah sebabnya, Allah swt dalam QS. Al-Jin: 19 menyebut nabi Muhammad saw sebagai ˋabdullōhi, “Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadat), hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya”(al-Kasyani, 126: 1992).

Berkaitan dengan usaha seorang hamba menghias sifat kehambaannya dengan berbagai nama Tuhan yang indah, al-Ghazali [W. 505 H] menyatakan dalam al-Maqodu al-Asnā, kitab yang secara spesifik di karang al-Ghazali untuk mengurai berbagai makna yang tersirat dalam al-Asmā’u al-Husnā, bahwa “anna kamāla ‘abdi wa sa’ādatahu fī at-takholluqibi akhlāqillahi wa at-tahalli bi ma’āni ifātihi wa asmā’ihi bi qodri mā yutaowwaru fī haqqihi: sungguh kesempurnaan dan kebahagian seorang hamba adalah ketika dia mampu berakhlak dengan akhlak Tuhan serta berhias dengan kandungan sifat-sifat dan nama-nama Tuhan sesuai kapasitasnya sebagai seorang hamba”(al-Ghazali, 75: 2001).

Sedangkan untuk mengkaji lebih jauh seputar nama-nama Tuhan dan hubungannya dengan kaidah internalisasinya kedalam sifat seorang hamba, maka kami persilahkan para pembaca untuk mengkajinya langsung dari beberapa kitab berikut: TafsĪru Asmā’i al-Husnā karangan az-Zujaj [W. 311 H], Lawāmi’u al-Bayyyināt: Syarhu Asmā’illāhi Taˋālā Wa aifāti  karangan Fakhruddin ar-Rozi [W. 606 H],  Asmā’ullōhi  al-Husnā karangan Abdulloh Ibnu Solih, al-Asnā fīSyarhi Asmā’illāhi  al-Husnā karangan al-Qurtubi [W. 671 H], Fiqhual-Asmā’i al-Husna karangan Abdur Rozzak al-Badar, al-Maqodu al-Asnā karangan Abu Hamid al-Ghazali [ W. 505 H], al-Amadu al-Aqōkarangan Ibnul Arobi [W. 542 H], [8] Syarhu Asmā’i al-Husnā karangan al-Qusyairi [W.460 H],Syarhu Asmā’i al-Husnā karangan as-Sanusi [W. 890 H], Manūmatu Asmā’i al-Husnā karangan Syekh Abdul Qodir al-jilani [W. 561 H], an-Nahju al-Asmā karangan Muhammad Mahmud an-Najdi, Syarhu Ibnu al-Qoyyim Li  Asmā’i al-Husnā karangan Umar Sulaiman al-Asyqor, al-Asmā’u Wa aifātu karangan al-Baihaki [W. 458 H], Dandanatu Fī Rihābi al- Asmā’i al-Husnā karangan as-Sayyid al-Mallah, Fī Malakūtillāhi Maˋa Asmā’illāhi al-Husnā karangan Abdul Maksud Muhammad Salim, dan al-Futūhātu al-Makiyyatu karangan Syaikhul Akbar Ibnu Arobi [W. 638 H].

Kedua,pembahasan seputar integrasi nahwu gramatikal dengan kaidah fikih ini terinspirasi oleh tulisan al-Qusyairi dalam Nahwu al-Qulūb al-Kabīr, “wa lammā kāna an-naˋtu tābiˋan kāna hukmuhu hukmu matbūˋihi. Wa hakażā hukmu kulli tābiˋin innamā huwa hukmu matbūˋihi: dikarenakan na’at termasuk isim yang mengikuti isim sebelumnya [man’ūt], maka hukum na’at adalah seperti hukum isim yang dikutinya [man’ūt]. Artinya, setiap pengekor harus ikut yang diikutinya (al-Qusyairi, 77:1994).

Menurut Muhammad Bakar Ismail, dalam konteks tabi’ dan matbu’: na’at dan man’ut terdapat sembilan kaidah fikih yang terkumpul dalam narasi “ahkāmu at-tābiˋu maˋa al-matbūˋi: hukum seputar pengikut dan yang diikuti”. Kesembilan kaidah yang satu dengan lainnya saling melengkapi serta memberi pemahaman bahwa sejatinya tiada lain sesuatu yang mengekor adalah bagian tidak terpisah dari induk yang diikutinya. Oleh sebab itu, maka  setiap hukum induk tersebut juga menjadi hukum bagianya (Ismail, 129: 1997). Namun dalam pembahasan kali ini hanya akan diketengahkan delapan kaidah saja.

Kaidah pertama adalah “at-tābiˋu tābiˋun: keberadaan sesuatu yang mengekor pada keberadaan benda lain, maka berlaku baginya hukum yang berlaku bagi benda yang diikutinya”.Adapun sudut pandang pengekoran tersebut dapat ditinjau dari salah satu empat aspek berikut: [1] menjadi bagian yang tidak bisa terpisah dari yang diikuti seperti kulit yang menepel pada hewan; [2]  menjadi seperti bagian bagi perkara yang diikuti seperti janin dalam kandungan dan mata cincin; [3] menjadi sifat bagi benda yang diikuti seperti pohon dan bangunan yang tegak berdiri di atas tanah; [4] menjadi keharusan bagi benda yang diikuti, yang tidak bisa lengkap tanpanya seperti jalan bagi rumah, kunci bagi gembok, pegangan dan rangka bagi pedang (az-zarqo: 253: 1989).

Kaidah kedua adalah “at-tābiˋu yasqutu bi suqūi matbū’ihi: keberadaan hukum sesuatu yang mengekor menjadi hilang sebab hilangnya hukum benda yang diikuti”. Dalam pernyataan lain kaidah ini juga disebut dengan ungkapan “iżā saqoo al-alu saqoo al-farˋu: jika hukum induk sesuatu hilang, maka hilang pula hukum setiap cabang yang mengikutinya”. Di antara contoh kaidah ini adalah barang siapa telah hilang baginya kewajiban melaksanakan sholat lima waktu sebab gila, maka hilang pula baginya kesunahan melakukan sholat sunah rowatib (Ismail, 131: 1997).

Kaidah ketiga adalah “at-tābiˋu lā yataqoddamu ˋalā al-matbūˋihi: pihak yang mengekor tidak boleh mendahului pihak yang diikuti”. Di antara contoh paling konkrit dari kaidah ini adalah tidak boleh bagi makmum mendahului imam dalam bertakbirotul ihrom, rukuk, i’tidal, sujud, dan salam. Sebagaimana tidak boleh bagi makmum berdiri sholat di depan imam (Ismail, 132: 1997).

Kaidah keempat adalah “yughtafaru fī at-tawābiˋi mā lā yughtafaru fī al-matbūˋihi: ada dispensasi bagi sesuatu yang mengikuti, tapi tidak begitu sesuatu yang diikuti”. Di antara contoh kaidah ini adalah  diperbolehkan mewakafkan tanah perkebunan yang rusak tanamannya. Sebab tanaman hanya bersetatus sebagai perkara yang menempel pada tanah perkebunan yang diwakafkan (Ismail, 133: 1997).

Kaidah kelima adalah “iżā baola al-alu yuōru ilā al-badali: jika hukum induk telah batal atau tidak mungkin dilakukan maka boleh menggantinya dengan hukum cabang”. Di antara aplikasi dari kaidah ini adalah [1] jika tidak bisa bersuci dengan air karena suatu sebab, maka boleh bersuci dengan debu; dan  [2] jika tidak bisa sholat fardlu dengan berdiri sebab sakit atau lainnya, maka boleh dengan duduk (Ismail, 134: 1997).

Kaidah keenam adalah “iżā ijtamaˋa amrōni min jinsin wāhidin wa lam yakhtalif maqūduhumā dakhola ahaduhumā fī al-akōri ghōliban: jika ada dua perkara yang satu dengan lainnya menuntut hal yang sama sebab ketunggalan keduanya dalam segi pekerjaan, hukum, atau tujuan, maka sekali tuntunan dari salah satunya dilakukan, niscaya tuntunan yang lainnya sudah terpenuhi juga”. Di antara contoh kaidah ini adalah [1] jika seseorang haid dan junub secara bersamaan, maka cukup satu kali mandi besar untuk menghilangkan hadas keduanya. Sebab keduanya adalah hadas besar yang bisa hilang dengan mandi besar; [2] jika seseorang berhadas kecil dan besar secara bersamaan, maka cukup baginya menghilangkan hadas besar dengan mandi tanpa berwudlu. Sebab hadas kecil itu tercakup dalam hadas besar. Sedangkan maksud keduanya adalah satu, yaitu bersuci; [3] jika seseorang berkali-kali melakukan perkara yang menyebabkan sujud sahwi ketika sholat, maka cukup baginya melakukan satu sujud sahwi; dan [4] jika seorang pria berhubungan seksual dengan istrinya lebih dari sekali di satu siang hari bulan Ramadlan, maka dia hanya terkena satu kaffarot. Berbeda jika hubungan seksual itu dilakukan di hari yang berbeda, maka berbedanya hitungan hari menjadi sebab bertambahnya jumlah kaffarot  (Ismail, 135-136: 1997).

Kaidah ketujuh adalah “mā haruma akhżuhu haruma iˋōˋuhu: apa yang haram diambil, maka juga haram diberikan”. Artinya, setiap barang yang haram diambil [dimiliki] oleh seseorang, maka juga tidak boleh baginya mensedekahkan, menghadiahkan, menghibahkan barang tersebut pada orang lain. Sebagaimana tidak boleh baginya memberikan barang haram tersebut untuk kemaslahatan umum. Dalam narasi lain, kaidah ini senada dengan kaidah “mā haruma fiˋluhu haruma olabuhu: apa yang haram dilakukan, maka haram memerintahkannya”. Di antara aplikasi kaidah ini adalah [1] larangan menerima dan memberikan suap dalam berbagai bentuk dan caranya; dan [2] larangan merampok serta mensedekahkan harta hasil rampokan tersebut pada orang lain  (Ismail, 137: 1997).

Kaidah kedelapan adalah “al-aˋomu iżā saqoo ˋani an-nāsi saqoo mā huwa aghoru minhu: jika hukum perkara yang paling agung [utama] telah hilang dari manusia, maka berbagai hukum perkara kecil yang tercakup di dalamnya juga ikut hilang”. Di antara contoh kaidah ini adalah orang yang dipaksa melakukan perkataan atau perbuatan yang membuatnya keluar dari Islam, maka tidak berlaku baginya kekufuran. Oleh sebab itu, Islam tetap agamanya, istrinya tetap sah baginya, berlaku baginya kefardlu kifayahan perawatan jenazah seperti dimandikan, dikafani, disholati, dan dikubur diperkuburan muslim (Ismail, 140: 1997). Wallōhu Aˋlamu bi Aowābi

Al-hamdulillah, bersambung pada bagian XXVI integrasi nahwu spiritual dengan nahwu gramatikal seputar “at-Tawkīdu”. Jalan Ikan Gurami Gang VI Tunjungsekar, Lowokwaru, Kota Malang, 15.18 Hari Selasa 06 Februari 2018. Saya persembahkan tulisan penuh kekurangan ini pada sahabatku di pulau Batam: Muhammad Subhan. Sahabat dari Probolinggo yang sedang berjuang dan berkhidmah di jalan Allah SWT. Pemuda yang mendedikasikan masa mudanya untuk kemakmuran masjid Allah di tanah nan jauh di sana. Selamat berkhidmat dan berjuang sahabatku. Teruslah menanam dan rawatlah selalu tanamanmu. Semoga kelak engkau memanen semua yang engkau tanam bersama “istri tercintamu”di Pulau seberang sana. Amin bijahi sayyidil mursalin wa imamil muttaqin, Muhammad rosulil amin. Al-Fatihah.

Daftar Pustaka

Al-Ghazali, Abu Hamid, al-Maqodu al-Asnā, Qohiroh: Maktabah al-Quran, 2011.

Al-Kasyani, Abdur Rozak, Muˋjam Iṣṭilāhatu aūfiyyatu, Cet. I, Qohiroh: Darul Manar, 1992.

Al-Maqdisi, Izzuddin, Talkhīu al-Ibāroti Fī Nahwi Ahli al-Isyāroti, Libanon: Darul Kutub al-Ilmiyah, 2006.

Al-Qurtubi, Muhammad, at-Tażkirotu Bī Ahwāli al-Mawtā Wa Umūri al-Akhiroti, Vol. II, Cet. I, Riyad: Darul Minhaj, 1425 H.

Al-Qusyairi, Abdul Karim, Nahwu al-Qulūb al-Kabīr, Qohiroh: Alamul Fikri, 1994.

Al-Qusyairi, Abdul Karim, Nahwu al-Qulūb aoghīr, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, tt.

Ibnu Ajibah, Syarhu al-Futūhāt al-Qudsiyah Fī Syarhi al-Muqoddimati al-Ajurūmiyati, Magrib: Darul Baido’, tt.

Ismail, Muhammad Bakar, al-Qowāid al-Fiqhiyyatu Bayna al-Aōlatu Wa at-Tawjīhatu, Cet.I, Qohiroh: Darul Manar, 1997.

Muslim Bin Hajjaj, ohĪhu Muslimi, Vol. II, Cet. IV, Lebanon: Darul Kutub al-ilmiyah, 2011.

Nadwi, M. Maftuhin Sholeh, Awōhu al-Masāliki, Vol. III, Surabaya: Putra Jaya, tt.

Zarqo, Mustofa, Syarhu al-Qowāidu al-Fiqhiyyatu, Cet. II, Dimsyiq: Darul Qolam, 1989.