al-Aṭfu: Cinta dan Kasih

JelajahPesantren.Com – al-Aṭfu: Cinta dan Kasih akan ‘Menyatukan’ Pecinta dan Tercinta. Pembahasan seputar athaf nasaq dalam nahwu gramatikal kali ini secara ringkas dan padat akan kami ketengahkan berdasarkan pemaparan Kyai Ibnu Malik dalam al-Fiyahnya. Secara berturutan akan diketengahhkan perihal definisi atahf nasaq, huruf athaf nasaq, faedah huruf atahf nasaq, dan contoh penggunaan huruf athaf nasaq dalam susunan kalimat sebagaimana di bawah ini.

Perihal definisi athaf nasaq, Kyai Ibnu Malik menyebutkan:

تَالٍ بِحَرْفٍ مُتْبِعٍ عَطْفُ النَّسَقْ#كَاخْصُصْ بِوُدَ وَثَنَاءٍ مَنْ صَدَقْ

Athaf nasaq adalah tabi’ [lafadz yang mengikuti matbu’] yang antara tabi’ dan matbu’nya dipisah dengan salah satu dari huruf-huruf athaf nasaq yang berjumlah sepuluh.

Adapun kesepuluh huruf athof dan faidahnya adalah sebagaimana bait-bait nadzom di bawah ini:

فَالعَطْفُ مُطْلَقاً بِوَاوٍثمَّفَا#حَتَّىأَمَأوكَفِيكَ صِدْقٌ وَوَفَا

Huruf athaf nasaq wawu, ṡumma, fa’, hattā, am, dan aw kesemuanya berfungsi untuk menggabungkan ma’thuf [lafadz yang diathafkan: jatuh setelah huruf athaf] pada ma’thuf alaih [lafadz yang diathafi: jatuh sebelum huruf athaf] secara mutlak: secara lafdziyah dan maknawiyah.

وَأَتْبَعَتْ لَفْظَاً فَحَسْبُبَل وَلاَ#لَكِنْ كَلَمْ يَبْدُو امْرُؤٌ لَكِنْ طَلاَ

Huruf athaf nasaq bal, lākin, dan lā kesemuanya hanya boleh menggabungkan ma’thuf dan ma’thuf alaih dalam segi I’rob saja, bukan hukumnya [bahkan berlawanan]

وَمِثْلُ أَو فِي القَصْدِ إِمَّا الثَّانِيَهْ#فِي نَحْوِإِمَّا ذِي وَإمَّا النَّائِيَهْ

Jika lafadz immā disebut secara berulang, maka imma  yang kedua mempunyai arti dan fungsi seperti huruf athaf nasaq wawu: jika jatuh setelah jumlah tholabiyah bermakna takhyir dan ibahah. Jika jatuh setelah jumlah khobariyah bermakna syak, ibham, taqsim, dan tafshil.

Sedangkan faedah dari kesepuluh huruf athaf di atas adalah:

  1. Wawu: الواو berfaedah muṭlaqu al-jamˋi: mengumpulkan ma’thuf dan ma’thuf ‘alaih dalam suatu hukum secara mutlak.
  2. Fa’: الفاء berfaedah at-tartīb maˋa al-ittiṣōli: mengakhirkan ma’thuf dari ma’thuf alaih secara ber-urutan.
  3. Ṡumma: ثمُّ berfaedah at-tartīb maˋa al-infiṣōli: mengakhirkan ma’thuf dari ma’thuf alaih secara ber-urutan dan berkala [berjeda].
  4. Hattā: حَتّى berfaedah mengathofkan ma’thuf yang terdiri dari sebagian ma’thuf alaih dan menjadi puncak darinya dari segi kemulian atau kerendahannya.
  5. Am: أم berfaedah at-taswiyyah: menyamakan kedudukan ma’thuf dan ma’thuf alaih dalam segi hukum.
  6. Aw: أَوْ berfaedah takhyīr: harus memilih salah satu dari ma’thuf atau ma’thuf alaih, ibāhah: boleh memilih kedua ma’thuf dan ma’thuf alaih atau memilih salah satunya, taqsīm: mengklasifikasi/ membagi, ibhām: menyamarkan ma’thuf dan ma’thuf alaih pada orang yang mendengar agar tidak diketahui dengan mudah, siapakah di antara keduanya yang dimaksud, syāk: keraguan, dan iḍrōb: berpindah dari sesuatu pada sesuatu yang lain [bahkan].
  7. Bal: بَلْ berfaedah istidrōk: menetapkan suatu hukum pada lafadz yang jatuh sebelumnya, dan menetapkan hukum sebaliknya pada lafadz yang jatuh setelahnya. Di samping juga berfaedah iḍrōb: memindahkan suatu hukum ma’thuf alaih pada ma’thuf sehingga ma’thuf alaih seakan-akan tidak pernah disebutkan. Syarat بَلْ berfaedah istidrōk harus jatuh setelah nafi atau nahi. Sedangkan syarat بَلْ berfaedah iḍrōbharus jatuh setelah amar atau kalam khobar yang musbat.
  8. Lākin: لكن berfaedah istidrōk: menetapkan suatu hukum pada lafadz yang jatuh sebelumnya, dan menetapkan hukum sebaliknya pada lafadz yang jatuh setelahnya. Syaratnya harus jatuh setelah nafi atau nahi.
  9. Lā: لاَ berfaedah nafyu mā baˋdahā wa iṡbātu mā qoblahā: meniadakan hukum lafadz yang jatuh setelahnya dan menetapkan hukum lafadz yang jatuh sebelumnya.
  10. Immā aṡ-ṡāniyah berfaedah sama dengan aw dengan syarat yang juga sama dengannya. Berfaedah takhyir dan ibahah jika jatuh setelah kalam tholabi serta berfaedah idrob, syak, ibham, taqsim, dan tafsil jika jatuh setelah kalam khobari (Nadwi, 152: tt)

Untuk lebih jelasnya di bawah ini kami ketengahkan contoh masing masing huruf athaf nasaq sebagaimana di bawah ini:

No Huruf Athaf Contoh Terjemahan
1 الواو جَاءَنِيْ مُحمدٌ وَرِسَالتُهُ Muhammad dan ajarannya telah datang padaku
2 الفاء خَرَحَ مِنَ المَسْجِدِ الْمُسْلِمُ فَالْمُؤْمِنُ Seorang muslim lalu seorang mukmin keluar dari masjid
3 ثُمَّ أَخَذْتُ القرأنَ ثم قَرَأْتُهَا Saya mengambil ak-Quran kemudian membacanya
4 حَتَّى مَاتَ النَّاسُ حَتى الأَنْبِياءُ Semua manusia sampai para nabi as meninggal dunia
5 أَمْ إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ  [البقرة/6] Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka kamu beri khabar yang menakutkan atau tidak kamu beri khabar menakutkan, mereka tidak akan beriman
6 أَوْ تَزَوَّجْحليمةَ أو أُخْتَهَا Nikahi Halimah atau saudarinya
7 بَلْ مَا جَاءَ الاِمَامُ بَلِ المَأْمُوْمُ Imam belum dating, tapi makmum [sudah]
8 لكن مَا قَرَأتُ المَجَلَّةَ لَكِنِ القُرْأنَ Saya tidak membaca majalah, tetapi al-Quran
9 لاَ تَرَكَ مُحمدٌ ألدين السمحةَ لا غيره Muhammad meninggalkan agama yang toleran, bukan lainnya
10 إما الثانية الإسمُ إِمَّا نَكِرَةٌ وَإِمَّا مَعْرِفَةٌ Isim itu ada kalanya nakiroh, adakalanya makrifat

Selanjutnya pembahasan seputar integrasi athaf gramatikal dengan athaf spiritual akan disajikan dalam beberapa konten: [1] etimologi [bahasa] athaf, [2] terminilogi kesepuluh huruf athaf dalam kacamata nahwu spiritual, dan [3] indikator athaf spiritual.

Pertama, etimologi athaf. dalam perbendaharaan Bahasa Arb terma al-ˋaṭfu memiliki beberapa arti mulai belas kasih, cinta, lekukan, belokan, tekungan, kecondongan, kemiringan, dan penyambungan (Atabik, 1299:tt). Pengetahuan seputar ragam makna athaf di atas sangat diperlukan. Sebab dalam kerangka terminologi spiritual, pemaknaan athaf tidak bisa lepas dari salah satu atau lebih makna tersebut.

Kedua, terminologi spiritual kedelapan huruf athaf nasaq. Dalam ranah nahwu spiritual, ada delapan cara seorang hamba bisa terkoneksi dengan Tuhannya, yang akhirnya mendapat belas kasih dan cinta-Nya, yaitu (Ibun Ajibah, 313: tt)

  1. Ber-wawu muṭlaqi al-jamˋi: mengumpulkan niat, motif, dan tekad hati hanya pada Allah SWT semata serta berkumpul dengan para kekasih Tuhan. Menurut Ibrohim al-Khowwas [W. 291 H] kedua perkumpulan hati tersebut akan berdampak obat penguat spiritual bagi seorang hamba sebagaimana dikutip oleh al-Qusyairi [W.460 H] dalam ar-Risālatu al-Qusyairiyyatu: “obat hati spiritual itu ada lima macam, yaitu: membaca al-Quran dengan mengahayati maknanya, melaparkan perut, mendirikan sholat malam, merendahkan hati dan diri dalam lautan dzikir disepertiga malam, dan berkumpul dengan orang-orang sholih (al-Qusyairi, 411: tt).

Selanjutnya, agar “persahabatan kita dengan Tuhan atau makhluk-Nya” bisa berdimensi spiritual, maka alangkah indahnya perkataan Abu Usman al-jibri [W. 298 H) perihal persahabatan vertical dan horizontal berikut ini: [1] bersahabat dengan Allah SWT harus berlandaskan totalitas kesopanan, ketakutan, dan kedekatan penuh pengawasan Tuhan; [2] persahabatan dengan Rasulillah saw harus berdasarkan totalitas keikut sertaan pada sunahnya dan selalu dalam koridor syariat; [3] persahabatan dengan para kekasih Tuhan harus dilandasi pemuliaan dan pelayanan pada mereka; [4] persahabatan dengan keluarga harus bertopang kebagusan akhlak; [5] persahabatan dengan para kolega harus bersendikan senyuman; dan [6] persahabatan dengan orang-orang yang tidak berpendidikan harus bertonggak pada doa dan kasih sayang pada mereka (al-Qusyairi, 82: tt).

  1. Ber-Fa’u at-tartīb maˋa al-ittiṣōli: mentertibkan berbagai ritual ibadah lahiriah berdasarkan tuntunan syariat. Inilah yang oleh Ibnu Athoillah as-Sakandari diterangkan dalam al-Hikam-Nya: “tidaklah mengingkari wirid kecuali orang bodoh”.

Sedangkan untuk mengetahui lebih lanjut, berbagai wirid, tatacara, dan adab ketertiban ritual ibadah maka para pembaca bisa menggalinya langsung dari kitab Bidāyatu al-Hidāyati karangan Abu Hamid al-Ghzali [W. 505 H], kitab tartību al-awrōdi wa tafṣīli ihyā’i al-laili: menertibkan berbagai wirid dan perincian [cara] menghidupkan malam hari dari kitab Ihyā’ ˋulūmiddīna karangan Abu Hamid al-Ghazali, atau kitab Qūtu al-Qulūb karangan Abu Tolib al-Maki [W. 386 H].

  1. Ber-umma at-tartīb maˋa al-infiṣōli: pelan, bertahap, dan penuh kewaspadaan dalam berolah spiritual bukan tergesa-gesa penuh ambisi. Sebab pelan, bertahap, penuh perhitungan adalah dari Allah SWT sedangkan tergesa-gesa penuh ambisi adalah dari setan. Inilah yang diungkapkan pepatah Arab: “Barang siapa pelan-pelan penuh perhitungan maka akan sampai pada tujuan. Namun barang siapa tergesa-gesa penuh ambisi niscaya akan tergelincir dari tujuan”.

Dalam konteks ini, berulang kali guru Ibnu Ajibah [W. 1266 H], Syekh Ahmad Abu Salham ra berpesan padasang murid dengan mendendangkan bait syair di bawah ini

Pelan-pelanlah, jangan tergesa-gesa di setiap keinginanmu

Berbelas kasihlah pada seluruh makhluk, niscaya kamu remuk dalam kasih sayang

  1. Ber-aw takhyīr: memilih ibadah daripada tidak beribadah. Bahkan seandainya Tuhan memberikan pilihan pada seorang hamba antara tunduk penuh kehinaan dalam beribadah atau kegagahan dalam ketidak terikatan dalam penghambaan pada Tuhan, niscaya dia memilih menjadi hamba-Nya yang dengan totalitas kesadaran menghambakan diri penuh kehinaan, kerendahan diri, dan kesalahan di hadapan-Nya.

Alangkah indah ungkapan Ibnu Athoillah as-Sakandari ra [W. 709 H] berikut ini: “tampakkanlah sifat-siaftmu, niscaya Dia akan membantumu dengan sifat-sifat-Nya: tampakkan kehinaanmu niscaya Dia membantumu dengan kemulian-Nya, tampakkan kelemahanmu niscaya dia membantumu dengan kekuasaan-Nya, dan tampakkan ketidak mampuanmu niscaya Dia membantumu dengan daya dan kekuatan-Nya”. Maka menurut Ibnu Ajibah ra dalam konteks ibadah, sifat seorang hamba ada empat sebagaimana sifat Tuhan juga ada empat. Sifat hamba adalah al-faqīr [butuh pada tuhan] sedangkan sifat Tuhan adalah al-Ghoniy [tidak butuh pada selain-Nya]. Sifat seorang hamba adalah rendah sedang sifat Tuhan adalah mulia. Sifat seorang hamba adalah tidak berdaya sedangkan sifat Tuhan adalah berkuasa. Sifat seorang hamba adalah lemah sedangkan sifat Tuhan adalah digdayas. masih menurut Ibnu Ajibah ra, jika seorang hamba dalam beribadah bisa mensifati dirinya dengan keempat sifat seorang hamba tersebut, niscaya Tuhan akan mengaruniakan padanya pancaran keempat sifat-Nya pada sifat-sifat hamba tersebut [Ibnu Ajibah, 333, 2016].

Ber-aw al-ibāhati: memperbolehkan harta dan jiwanya untuk kemaslahatan seluruh makhluk Tuhan.

Dalam berolah spiritual aw jenis ini, maka alangkah indahnya ungkapan Ibnu Arobi [W. 628 H] sebagaimana dikutip Robert Frager [mursyid sufi dan professor psikologi di Institute Of Transpersonal Psychologi California] berikut ini, “dalam tingkatan hukum syariat berlaku hukum ‘milikmu dan milikku’, dalam ranah tarikat berlaku kaidah ‘milikku adalah milikkmu dan milikmu adalah milikku’, dalam tingkat hakikat berlaku hukum ‘tidak ada milikku dan juga tidak ada milikmu’, sedangkan dalam ranah makrifat berlaku hukum ‘tidak  ada aku dan tidak ada kamu’” (Robert Frager, 13-14: 2005).

Kenapa dalam syariat berlaku “milikku dan milikmu”? sebab hukum syariat secara tegas menjamin hak individu dan berlakunya kode etik di antara manusia. Kenapa dalam tarekat berlaku “milikku adalah milikmu sedangkan milikmu adalah milikku”? sebab dalam bertarekat seseorang harus bisa naik pada tingkatan memperlakukan sesamanya sebagai saudara yang bisa saling membukakan pintu rumah, hati, dan harta kekayaan di antara mereka. Kenapa dalam hakikat berlaku “tidak ada milikku dan milikmu”? sebab para sufi sadar bahwa segala sesuatu berasal dari anugerah Tuhan. Artinya, setiap makhluk Tuhan hanya bertugas sebagai pengemban amanah. Mereka tidak memiliki apapun. Sebab mereka hanya mandataris Tuhan di muka bumi ini. Terakhir, kenapa dalam makrifat berlaku “tidak ada aku dan kamu”? sebab dalam pandangan tasawuf bahkan teologi, wujud selain Tuhan adalah fana’ dan tergantung pada wujud Tuhan. Sehingga hakikat wujud selain Tuhan, bukanlah wajib dan kekal, tapi relatif dan fana. Oleh sebab itu, para sufi mengembalikan semua bentuk wujud di alam semesta ini pada firman Tuhan QS. Al-Baqoroh: 156, “sesungguhnya kami hanya milik Allah dan hanya kepada-Nyakami kembali” (Robert Frager, 13-14: 2005).

Ber-aw taqsīm: membagi berbagai karunia Allah SWT seperti rizki, ilmu pengetahuan, dan berbagai rahasia Tuhan kepada yang berhak menerimanya.

Ber-aw al-ibhām: menyamarkan dan merahasiakan berbagai rahasia amal ibadah dan kebaikan dari pandangan selain Tuhan. Sebab telah merasa cukup dengan pengetahuan Tuhan perihal ibadah vertical dan ibadah horisontalnya.Inilah makna tersirat dari ungkapan Ibnu Athoillah dalam al-Hikamnya: “keinginanmu agar orang mengetahui keistimewaanmu adalah bukti ketidak tulusanmu dalam ubudiyah-mu” (Ibnu Athoillah, 40: 6).

Ber-aw tasykīk: mencurigai berbagai keramat yang dimiliki sehingga lebih memilih bumi keterasingan dan ketidak terkenalan daripada pentas dunia kemasyhuran di hadapan khalayak luas. Inilah yang disinyalir Abu Madyan at-Tilmisani dalam al-Hikam al-Ghoutsiyah-nya: “Man tahaqqoqo bi al-ubūdiyati naẓoro aˋmālahu bi ˋaini ar-riyā’ wa ahwālahu bi ˋaini ad-daˋwā wa aqwālahu bi ˋaini al-iftirō’: barang siapa teguh-istikomah dalam beribadah, niscaya dia akan selalu mencurigai berbagai [kualitas] amal ibadahnya masih bermotif pamer, memandang psikologi spiritualnya masih bercampur dengan pengakuan diri, dan melihat ibadah lisannya masih penuh kebohongan” (at-Tilmisani, 68: tt). Juga sebagaimana diajarkan oleh Ibnu Athoillah ra dalam al-Hikam al-Athoiyyah-Nya: “kuburlah dirimu dalam bumi kerendahan. Sebab sesuatu yang tumbuh tanpa dikubur [dalam tanah] niscaya hasilnya kurang sempurna” (Ibnu Athoillah, 46: 2016).

Ber-aw al-iḍrōb: berpaling dari dunia dan para pemburu dunia yang melalaikan pada Tuhan agar bisa fokus menghadap pada-Nya. Menurut Syekh Abu Hasan As-Syadzili ra, jika seseorang ingin membuka, mengoptimalkan, dan mereaktualisasikan mata batinnya, maka dia harus menghilang dari panca indera lahiriahnya. Berkenaan dengan perkataan Syekh Abu Hasan as-Syadzili ra tersebut, Ibnu Ajibah ra berkata: “seukuran sirnanya seseorang dari pengaruh panca indera lahiriahnya, maka seukuran itu pula pencerahan spiritual yang didapatkannya”.

  1. Ber-am at-taswiyyah yang berfaedah menentukan dan menyamakan. Artinya, menentukan pilihan pada al-Haq jalla jalaluhu, jalan-Nya, kebenaran, dan jalan tarekat di bawah bimbingan seorang mursyid yang telah sama baginya kaya dan miskin, emas dan debu, pujian dan cacian, pemberian dan penolakan, kemulian dan kehinaan, dan seterusnya. Menurut Ibnu Ajibah ra, dengan penentuan dan penyamaan tersebut seseorang layak mendapatkan derajat spiritual al-wilāyatul kubrō: kewalian agung.
  2. Ber-bal al-iḍrōb: berpaling dari selain al-Haq azza wa jalla selanjutnya lebur sirna dalam keagungan Tuhan azza wa jalla [fanā’an wa syuhūdan]. Dalam derajat bal al-iḍrōb ini, seorang salik hanya bisa berkata: “al-Haqqu maujūdun lā ghairuhu: hanya Tuhan yang [absolut] wujud-Nya, selain-Nya hanya bersifat nisbi”.
  3. Ber-lākin al-istidrōk: menyusuli [mengkodlo’ atau mengganti] dengan kesungguhan dan sepenuh hati setiap amal ibadah yang terlewatkan sebab kelalaian, kelupaan, dan kesembronoan, baik sengaja atau tidak. Inilah prilaku spiritual lākin al-istidrōk sebagaimana dinyatakan oleh Sayyidina Ali ra: “sebaik-baik usia seorang hamba adalah umur yang dengannya dia bisa melakukan kembali [menyusuli, mengkodloi, atau mengganti] setiap amal ibadah yang terlewat olehnya dan menghidupkan kembali amal perbuatan yang telah dimatikan olehnya”.

Bahkan khusus perihal menghidupkan kembali sunah nabi saw ketika sunah tersebut telah terlupakan, Rasulillah saw sampai menjanjikan cintanya dan surga bagi pelakunya. “dan barang siapa menghidupkan sunahku niscaya aku mencintainya. Dan barang siapa aku cintai, niscaya bersamaku di surga,” begitu sabda Rasul saw bersumber dari Anas bin Malik ra dalam kitab Sunan at-Turmudzi.

  1. Ber-hattā al-intihā’: selalu istikomah penuh kesabaran dalam berolah spiritual menuju Tuhan. Artinya, tidak berputus asa sampai benar-benar telah sampai pada puncak kemakrifatan dan kesetabilan psikologi dan stasiun spiritual dalam puncak persaksian dan penyingkapan hijab spiritual.

Untuk mengetahui klasifikasi awal, tengah, dan akhir perjalanan serta fondasi perjalanan spiritual, pintu gerbang spiritual, akhlak spiritual, interaksi spiritual, dan obat spiritual, kami persilahkan para pembaca untuk membacanya secara langsung dari kitab Muˋjamu Iṣṭilāhātu aṣ-Ṣūfiyyatu karangan Abdur Rozzak al-Kasyani [W. 730 H].

Menurutal-Maqdisi [W.678 H], dasar dari kesepuluh huruf athaf gramatikal adalah huruf al-Wawu, begitu pula dalam huruf athaf spiritual (al-Maqdisi, 35: 2006). Maka dasar dari semua perjalanan spiritual adalah mutlaqu al-jamˋi: berkumpul dengan hamba-hamba Tuhan yang telah tercerahkan cahaya spiritual, cahaya Nur Muhammad, dan cahaya Allah SWT. Sebab dengan berkumpul dengan para hamba Tuhan yang telah tercerahkan apalagi jika hamba tersebut telah menjadi sosok cahaya, niscaya akan berdampak pencerahan spiritual. Ibarat seseorang yang berteman dengan penjual minyak wangi, niscaya akan ikut berbau harum. Namun jika berteman dengan pandai besi niscaya akan bau asap penempaan besi.

Betapa pentingnya ber-wawu mutlaqu al-jamˋidalam perjalanan ruhani seeorang sehingga tidak aneh jika dalam berolah spiritual seseorang harus menempa dirinya di bawah bimbingan seorang guru tarbiyah. Guru yang selalu memamantau dan menjadi sahabat spiritualnya laksana Nabi Muhammad saw bagi para sahabatnya. Sosok nabi dan rasul sekaligus guru teragung spiritual manusia di zamannya. Intinya, jika ingin mendapatkan cahaya Nur Muhammad dan cahaya Allah jalla jalaluhu, maka syaratnya adalah berteman, bersahabat, dan duduk bersimpuh di hadapan para pewaris sejati nabi Muhammad saw. Di samping pasti persahabatan tersebut akan melahirkan keridloan dan cinta kasih Tuhan sebagaimana disinyalir QS. Al-Maidah: 54 dan 199, at-Taubah: 101, al-Mujadilah: 22, dan al-Bayyinah: 8 (al-Maqdisi, 35: 2006).

Ketiga, indikator athaf spiritual. Jika seorang hamba telah mampu melaksananakan berbagai kandungan spiritual huruf athaf sebagaimana tersebut sebelumnya, maka pantas baginya mendapatkan aṭfullōhi: belas kasih dan cinta Allah azza wa jalla. Sedangkan indikator cinta Tuhan pada hamba-Nya adalah dimulai dengan pemberian hidayah, curahan pertolongan, curahan kasih sayang, tarikan spiritual kedekatan, pembukaan tirai spiritual, kemenangan atas musuh, perhatian spiritual dan material, limpahan cinta untuk hamba tersebut dari segenap hamba-hamba-Nya, dan tercerahkan, tersadarkan, dan bangkitnya berbagai hati nurani sebab mendengarkan ucapan, melihat prilaku, dan merasakan himmah perjuangan hamba terkasih-Nya tersebut.

Sedangkan indikator aṭfu al-ibād ˋalā allōhi: cinta kasih hamba pada Tuhannya adalah melaksanakan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, selalu menyebut-Nya, pasrah pada takdir-Nya, cinta pada kalam-Nya, cinta rasul-Nya, cinta keluarga rasul-Nya, cinta kekasih-kekasih-Nya, berteman dan khidmah pada para kekasih Tuhan, percaya pada-Nya, tawakal pada-Nya di setiap urusan, tunduk pasrah penuh ketidak berdayaan di hadapan keagungan-Nya, ridlo dan pasrah pada semua hukum sifat jalal dan kamal [keagungan dan keindahan Tuhan], meneguhkan makam makrifat, selalu menyaksikan-Nya dengan mata batin, dan menghadirkan-Nya di setiap nafas (Ibnu Ajibah, 313: tt). Wallōhu Aˋlamu bi Aṣ-Ṣowābi

Pernikahan Sahabat Sanggar Telaga

Al-hamdulillah, bersambung pada bagian XXVII integrasi nahwu spiritual dengan nahwu gramatikal seputar “at-Tawkīdu”. Jalan Ikan Gurami Gang VI Tunjungsekar, Lowokwaru, Kota Malang, 05.02 Jumat 02 Maret 2018. Saya persembahkan tulisan ini pada sahabat Sanggar Telaga di Desa Ngenep Karangploso: Muhammad Khoirul pada: Jumat 02Maret 2018 pukul 06.30 WIB melangsungkan akad nikah dengan istri tercintanya, Desi Siti Aisah. Semoga menjadi akad nikah yang penuh berkah berdasarkan keberkahan hari Jumat, keberkahan Masjid Baiturrohaman, dan keberkahan doa para sesepuh desa sehingga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rohmah. Amin bijahi sayyidil mursalin wa imamil muttaqin, Muhammad rosulil amin. Al-Fatihah.

Daftar Pustaka

Al-Maqdisi, Izzuddin, Talkhīṣu al-Ibāroti Fī Nahwi Ahli al-Isyāroti, Libanon: Darul Kutub al-Ilmiyah, 2006.

Al-Qusyairi, Abdul Karim, ar-Risālatu al-Qusyairiyyatu, Qohiroh: Darus Syu’bi, tt.

Al-Qusyairi, Abdul Karim, ar-Risālatu al-Qusyairiyyatu, tk: Darul Jil, tt.

As-Sakandari, Ibnu Athoillah, Matnu al-Hikam, Beirut: Darul Kutub al-Islamiyah, 2016.

At-Tilmisani, Abu Madyan, al-Hikamu al-Ghoṡiyyati, Qohiroh: Darul Afaq al-Arobiyah.

Frager, Robert, Heart, Self, & Soul: The Sufi Psichology Of Growth, terj. Hasyim Rouf, Hati, Diri, & Jiwa, Psikologi Sufi Untuk Transformasi, Cet. III, Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta.

Ibnu Ajibah, Īqōẓu al-Himami, Beirut: Darul Kutub al-Islamiyah, 2016.

Ibnu Ajibah, Syarhu al-Futūhāt al-Qudsiyah Fī Syarhi al-Muqoddimati al-Ajurūmiyati, Magrib: Darul Baido’, tt.

Ibnu Ibad, Vol. II, Syarhu al-Hikam, Surabaya: al-Hidayah, tt.

Nadwi, M. Maftuhin Sholeh, Awḍōhu al-Masāliki, Vol. III, Surabaya: Putra Jaya, tt.