JelajahPesantren.Com – Secara ringkas Ali Jumah mendefinisikan at-tawkīdu dengan: “lafadz yang mengikuti lafadz sebelumnya, yang tujuan penyebutannya dalam sebuah pembicaraan adalah untuk menghindari salah paham bagi pendengar”. Dalam nahwu gramatikal, taukid dibedakan dalam dua bentuk: taukid lafdzi dan taukid maknawi (Ali Jumah, 56: 1426 H).

Bagian pertama dari taukid adalah taukid lafdzi, yaitu sebuah penguatan dan pengukuhan dengan mengulangi lafadz yang dikuatkan dan dikukuhkan. Mulai dari yang berupa lafadz isim, fiil, huruf, jumlah ismiyah sampai jumlah fi’liyah sebagaimana contoh di bawah ini:

No Lafadz yang diulangi Contoh Aplikatif Arti
1 Isim جَاءَ الطَّالِبُ الطَّالِبُ Pelajar, pelajartelahdatang
2 Dlomir سَافَرْتُ أَنَا أَنَا وَ جَاءَ هُوَ هُوَ Saya, saya, sayasudahbepergiandandia, diatelahdatang
3 Huruf لَا لَا أُحِبُّ الْأَشْرَارَ Tidak,sayatidaksenang orang-orang yang berperangaiburuk
4 Jumlahismiyah اَلْحَقُّ يّعْلُوْ, اَلْحَقُّ يَعْلُوْ Kebenaranitutinggi

Kebenaranitutinggi

5 Jumlahfi’liyah إِنْتَصَرَ الْحَقُّ, إِنْتَصَرَ الْحَقُّ Telah tertolong kebenaran

Telah tertolong kebenaran

Bagian kedua adalah taukid maknawi.Taukid ragam ini menggunakan delapan lafadz mulai nafsun, ainun, kullun, ajmaˋun, ˋāmmatun, kilā, kiltā, danajmaˋu. Kedelapan lafadz taukid maknawi tersebut huruf akhirnya harus disambung dengan dlomir yang kembali pada lafadz yang dikuatkan dan kukuhkan serta[muakkad] sesuai dalam bilangan dan jenis kelamin. Selanjutnya, berdasarkan sudut pandang fungsi kedelapan lafadz tersebut adalah:

  1. نَفْسٌ وَ عَيْنٌ digunakan untuk mentaukidi muakkad yang menunjukkan arti satu personalia. Sedangkan jika نَفْسٌ وَ عَيْنٌdipergunakan untuk mentaukidi muakkad [lafadz yang ditaukidi] yang berpersonalia dua, tiga atau lebih maka harus dirubah menjadi أَنْفُسُ وَ أَعْيُنُ.
  2. كِلَا وَ كِلْتَا yang dimudlofkan pada isim dlomir. Kilā untuk memperkukuh muakkad yang berupa tasniyah mudzakar [dua personalia berjenis kelamin pria] yang dibaca rofa’. Sedangkan kiltā memperkukuh muakkad yang berupa tasniyah muannas [dua personalia berjenis kelamin wanita] yang dibaca rofa’.
  3. كُلٌّ, جَمِيْعٌ, وَعَامَّةٌdigunakanuntukmentaukidijamakmudzakar [tigapersonaliaataulebihberjeniskelaminpria].
  4. أَجْمَعَ dan cabang-cabang-nya yang biasanya jatuh setelah lafadz taukid كُلٌّsepertiأَجْمَعُوْنَ, جُمَعُ, و جُمَعَاءُ.

Untuklebihjelasnya, pembacabisamelihatcontoh di bawah(Ali Jumah, 56: 1426 H).

No TaukidMaknawi ContohAplikatif Arti
1 تَفْسُهُ رَأَيْتُ الطَّالِبَ تَفْسَهُ Saya melihat seorang pelajar, ia sendiri
2 عَيْنٌ رَأَيْتُ الطَّالِبَ عَيْنَهُ Saya melihat seorang pelajar, ia sendiri
3 اَنْفُسَهُمَا

اَعْيُنَهُنَّ , اَعْيُنَهُم

رَأَيْتُ الطَّالِبَين اَنْفُسَهُمَا

رَأَيْتُ الطَّالِبَاتِ اَعْيُنَهُنَّ

Saya melihat dua orang pelajar, keduanyasendiri

Saya melihat tiga orang pelajar putri, mereka semua sendiri

4 كِلَا جَاءَالطَّالِبَانِ كِلَاهُمَا Telah datang dua orang pelajar pria, keduanya sendiri
5 كِلْتَا جَاءَ الطَّالِبَتَانِ كِلْتَاهُمَا Telah datang dua pelajar putri, keduanya sendiri
6 كُلٌّ رَأَيْْتُ الطُّلَّابَ كُلَّهُمْ Saya melihat para pelajar putra, mereka semua sendiri
7 جَمِيْعٌ رَأَيْْتُ الطُّلَّابَجَمِيْعَهُمْ Saya melihat para pelajar putra, mereka semua sendiri
8 عَامَّة رَأَيْْتُ الطُّلَّابَعَامَّتَهُمْ Saya melihat para pelajar putra, mereka semua sendiri
9 أَجْمَعَ إِنْتَشَرَ الخَبَرُ فِي العَالَمِ كُلِّهِ أَجْمَعَ Telah tersebar khobar di seluruh alam, ia seluruhnya
10 أَجْمَعُوْنَ جَاءَ القَوْمُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُوْنَ Telah dating seluruh kaum, ia seluruhnya
11 جُمَعُ رَأَيْتُ الفِتْيَاتِكُلَّهُنَّ جُمَعَ Saya melihat semua gadis remaja, ia semuanya
12 جُمَعَاءُ خَرَجْتُ المدِيْنَةَ كُلَّهَا جُمَعَاءَ Saya keluar dari seluruh kota, ia keseluruhannya

 

Selanjutnya, pembacaan taukid nahwu gramatikal dengan lensa taukid nahwu spiritual akan disajikan dalam tiga konten: [1] definisi, [2] komposisi material kekukuhan bangunan spiritual, dan [3] re-interpretasi taukid gramatikal sebagai kalimat yang mengikuti kalimat sebelumnya dalam neraca taukid spiritual.

Pertama, dalam bahasa Arab, terma at-tawkīd juga terkadang disebut denganredaksiat-ta’kīd. Namunpenggunaantermapertama: at-tawkīdlebih popular dansahihsebabselarasdenganpenggunaanterminologi al-Quran QS. An-Nahel: 91 sebagaimana di bawahini

وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلَا تَنْقُضُوا الْأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلًا إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ

Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat(Ibnu Ajibah, 314: tt).

Sedangkan dalam leksikal ilmu tasrif, terma at-tawkīd berasal dari fiil madli “wakkada” yang bermakna pengukuhan, penguatan, dan konfirmasi (Atabik, 616: tt). Sedangkan dalam narasi nahwu spiritual, taukid bermakna: “pengukuhan perjalanan spiritual dengan tidak melanggar rambu-rambunya” (al-Maqdisi, 36: 2006).

Kedua, komposisi material kekukuhan bangunan spiritual. Dalam perjalanan menuju ridlo Tuhan, para sufi mengukuhkan bangunan spiritual mereka dengan sembilan komponen, yang meliputi:

  1. Akkadū īmānahum bi at-taṣḍīq: mengukuhkan iman dengan totalitas percaya pada setiap ajaran baginda besar Nabi Muhammad saw (alQusyairi, 45: tt).

Berbicara seputar iman, maka alangkah indahnya perumpaan Rasulillah saw perihal iman itu. Iman menurut beliau saw laksana sebuah pohon yang memiliki lebihdaritujuh puluh cabang. Cabang yang paling utama dalam menentukan keimanan seseorang adalah ucapan “tiada Tuhan selain Allah”,sedangkan cabang yang paling rendah adalah menyingkirkan setiap faktor yang berbahaya dari jalan yang di lewati setiap hamba Tuhan. “al-īmānu biˋun wa sabˋūna syuˋbatan. Fa afoluhā qoulu lā ilāha illallōhu wa adnāhu imāotu al-ażā ˋani aorīqi wa al-hayā’u mina al-īmāni: iman itu bercabang lebih dari tujuh puluh. Cabang paling utama adalah ucapan lā ilāha illallōhu sedangkan cabang yang paling rendah adalah menyingkirkan setiap faktor yang berpotensi menyakiti orang lain dari tengah jalan. Malu adalah bagian dari iman,” begitu sabda Rasulillah saw (Nawawi, 3-4: tt).

Selanjutnya, untuk mengetahui lebih detail seputar ketujuh puluh tujuh cabang iman, kami rekomendasikan para pembaca untuk menelaah kitab Qōmiˋu augyān ˋAlā Manūmati Syuˋbi al-Īmāni karya Syekh Muhammad Nawawi al-Jawi (W. 1897 M).

  1. Akkadū ˋaqdahum maˋallōhi bi at-tauīq: mengukuhkan ikatan Allah SWT dengan totalitas pembenaran (alQusyairi, 45: tt).

Menurut al-Qusyairi [W. 465 H] dasar dari kaidah pengukuhan bangunan spiritual yang kedua ini adalah QS. Al-Maidah: 1, “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu”(al-Qusyairi, 245: 2007). Di antara tafsir sufistik yang dikembangkan oleh para sufi perihal konteks pemenuhan akad-akad tersebut adalah dua akad yang dilakukan roh suci manusia di zaman azali. Akad pertama perihal janji dan persaksian mereka bahwa Allah SWT adalah Tuhan mereka. Akad kedua perihal janji mereka untuk memegang amanah di antara roh-roh suci yang terlahir kedunia fana. Akad pertama bersifat individual dan vertikal: antara roh suci manusia dengan Tuhan. Sedangkan akad kedua bersifat sosial dan horisontal: antara manusia dengan sesama hamba Tuhan. Persaksian bahwa Allah SWT adalah Tuhan semesta alam, jangan sampai berubah menjadi persaksian pada selain-Nya. Janji menjaga amanah antar sesama hamba Tuhan, jangan sampai dianggap remeh apalagi mengkhianatinya (al-Baqli, 293: 2008).

Dengan menjaga janji pertama, seseorang telah berprilaku aidqu maˋallōhi: jujur dalam penghambaan pada Allah SWT. Sedangkan dengan menepati janji kedua, maka seseorang telah berprilaku husnu al-khuluqi maˋa al-kholqi: berakhlak terpuji ketika berinteraksi dengan sesama hamba Tuhan. Dua prilaku yang menurut al-Ghazali [W. 505 H] sebagai dua syarat paling fundamental seseorang masuk dalam dunia tasawuf (al-Ghazali,  113: 2011)

  1. Syammarū fī mulāzamati aorīq: penuh semangat dalam bertarekat (al Qusyairi, 45: tt).

Pertanyaannya, dalam hal apa harus bersemangat? Tentu jawabannya adalah bersemangat dalam mengukuhkan delapan fondasi bertarekat. Mulai puasa, kholwat, selalu dalam keadaan wudlu, ihsan, robithoh, tidak menentang ajaran tarekat, hati yang berdzikir sampai lisan yang tidak banyak mengumbar pembicaraan (al-Kamasykhanawi, 214: tt).

  1. Akkadū ikhlāohum bi at-taufīq: mengukuhkan ikhlas mereka dengan terus menerus meminta pertolongan pada Allah SWT (al-Maqdisi, 36: 2006).

Kenapa ikhlas harus terus diperjuangkan? Sebab ikhlas adalah ibadah yang paling berat bagi nafsu. Sebab dengan adanya ikhlas, niscaya nafsu tidak akan punya andil dalam kebaikan seorang hamba. Oleh sebab itu, ada baiknya kami ketengahkan di bawah ini perihal ikhlas sebagaimana ditulis Syekh al-Kamasykhanawi dalam Jāmiˋul al-Uūl Fī al-Awliyā’ sebagaimana di bawah ini:

Secara etimologi dan terminologi ahli hakikat, terma ikhlas bermakna sama, yaitu: tidak riyak dalam melakukan ketaatan. Dengan kata lain, ikhlas adalah memurnikan ketaatan dari motif ingin berada dalam pandangan makhluk Tuhan. Di samping juga ada yang mendefinisikan ikhlas dengan ketiadaan motif dalam ketaatan kecuali hanya Allah SWT semata. Perihal definisi ini ar-Ruwaim (W. 915 M) berkata: “ikhlas adalah ketika seseorang beramal kebaikan tanpa mengharap imbalan di dunia dan akhirat”. Jika demikian, maka pertanda orang yang ikhlas beramal adalah [1] keselarasan ibadah seorang hamba dalam prilaku lahiriyah dan batiniahnya, dan [2] merahasiakan kebaikan sebagaimana merahasiakan keburukan.

Begitu pentingnya ikhlas dalam beramal, maka tidak aneh jika dalam hadis qudsi Allah SWT berfirman melalui lisan nabi-Nya [1] ikhlas adalah bagian dari rahasia-Ku yang aku titipkan di hati hamba yang Aku cintai; dan [2] berbahagialah orang-orang yang ikhlas. Mereka adalah lentera petunjuk. Berkat mereka berbagai fitnah yang terselubung dalam kegelapan menjadi terang benderang (al-Kamasykhanawi, 274: tt).

  1. Akkadū ādābahum bi luzūmi aorīq: mengukuhkan adab dengan teguh istikomah dalam bertarekat (al-Maqdisi, 36: 2006).

Menurut al-Wasithi ra [W. 942 M] ada dua cemeti yang bisa mencegah nafsu dari akhlak tercela, yaitu khouf dan roja’ (al-Qusyairi, 834: tt).

Redaksi mengukuhkan adab dengan teguh istikomah dalam bertarekat mengingatkan penulis ketika masih menjadi santri di Pesantren Mahasiswa al-Hikam [pesma] Malang. Saat itu, sore hari ketika mengaji kitab Fathu al-Qorīb kepada KH. Ahmad Muchit Muzadi [W. 2015 M], beliau menyampaikan: “melebu NU iku, opo maneh dadi pengurus NU iku ora kok kerono opo-opo, tapi niatono melebu NU iku kanggo dandani akhlakmu: masuk NU [Nahdlotul Ulama] apalagi menjadi pengurus NU itu bukan karena apapun, kecuali niatilah untuk memperbaiki akhlakmu”. Ternyata petuah Mbah Muchith ini sekarang menjadi spirit para mahasantri sebagaimana terus didengungkan oleh Drs. Mochammad Nafi’ sebagai salah satu dewan pengasuh Pesma al-Hikam Malang: “niat dandani awak. Ora niat golek penak’e awak: niat memperbaiki diri. Bukan niat mencari kesenangan pribadi”.

Niat memperbaiki diri dengan trilogi keseharian mahasantri Pesma al-Hikam Malang: sholat berjamaah, tadarrus al-Quran, dan dzikir serta istighotsah. Ketiga trilogi keseharian mahasantri untuk merealisasikan ketiga motto pesantren, yaitu: amaliah agama, prestasi ilmiah, dan kesiapan hidup.

  1. Akkadū dunyāhum bi at-talīq: mengukuhkan perceraian mereka dengan dunia fana (al-Maqdisi, 36: 2006).

Pertanyaannya, dunia yang bagaimanakah yang harus dicerai tiga kali sebagaimana pernah diungkapkan oleh Abu Yazid al-Bustomi ra [W. 875 M]? Tiada lain jawabannya adalah setiap perkara yang melalaikanmu dari al-Haq Azza wa Jalla. Inilah ragam bagian dunia yang termaktub dalam sabda Rasulillah saw: “dunia adalah rumah tinggal orang yang tidak punya rumah. Untuk dunia orang yang tidak berakal sehat berkumpul”. Berdasarkan kaidah dan sabda Rasul saw di atas, maka dunia itu ada yang menjadi media pemuas nafsu atau media menuju Allah SWT. Dunia pertama adalah sebagaimana ragam yang ditalak tiga kali oleh al-Bustomi ra, sedangkan ragam dunia yang kedua adalah sebagaimana sabda Rasul saw: “dunia adalah tempat menanam akhirat”.

Namun perlu diketahui, walaupun dunia itu bermata dua: mata nafsu dan mata akhirat, perlu diketahui bahwa secara garis besar: sedikit atau banyak, manis atau pahit, dan awal atau akhir dunia adalah sebuah cobaan dari Allah SWT. Cobaan yang hanya bisa di atasi dengan satu dari dua cara, yaitu: syukur berderma ketika memiliki harta dunia atau sabar penuh penerimaan hati ketika miskin papa dari harta dunia (al-Ajam, 352: 1999).

  1. Akkadū khulaqō’ahum bi at-tamzīq: mengukuhkan pemakaian kain kumal dengan merobeknya (al-Maqdisi, 36: 2006).

Artinyamerekamerobekpakaiankeangkuhan, kesombongan, dank e-egoisanmereka.Ketiganyatidakhanyatidak mereka pakai, namun mereka robek dan buang jauh-jauh dari jiwa dan raga mereka. Inilah yang diisyaratkan Allah SWT dalam QS. al-A’rof: 26, “Dan pakaian taqwa itu lebih baik”. Menurut al-Baqli [W. 606 H], nafsu memiliki saham kepemilikandi setiap pakaian selain pakaian takwa. Sedangkan pakaian takwa hanya dipakaikan Tuhan pada setiap hamba-Nya yang telah mampu sirna dalam keagungan dan keindahan-Nya serta berkarakter sebagaimana sifat dan nama-Nya. Bahkan barang siapa keluar dari rumahnya dengan menggunakan pakaian takwa nisacaya dia akan menjadi pusat pandangan Allah jala jalaluhu di alam semesta. Barang siapa melihatnya dia akan terkoneksi dengan Allah Jalla jalaluhu. Inilah makna dari sabda Rasul saw: “barang siapa melihatku, maka sungguh dia telah melihat [perwujudan sifat dan nama] al-Haq” (al-Baqli, 427, 2008).

Dalam khazanah sufistik, perihal pakaian dapat dibedakan menjadi enam ragam. Mulai pakaian perhiasan dunia [libāsu az-zīnah]untuk para pecinta dan pemburu dunia, pakaian petunjuk [libāsu al-hidāyah] bagi orang awam, pakaian takwa [libāsu at-taqwā] untuk golongan khusus, pakaian wibawa [libāsu al-haibah] untuk orang-orang yang telah bermakrifat, pakaian pertemuan dan persaksian spiritual [libāsu al-liqō’ wa al-musyāhadah] bagiwali-wali Allah SWT, dan pakaian tersingkapnya berbagai tabir spiritual disertai kedekatan jiwa pada pangkal cahaya alam semesta [libāsu al-haroh] bagi para nabi as.

Menurut al-Qusyairi ra [W. 465 H], alasan mengapa pakaian takwa itu lebih baik sebagaimana disebutdalam QS. Al-A’rof: 26 di atas adalah sebab pakaian fisik-lahiriah hanya bisa menjaga manusia dari bahaya yang bersifat dzohir seperti panas, dingin, dan terbukanya aurot. Berbeda dengan pakaian takwa, yang dalam sudut pandang agama bisa menjaga setiap pemakainya dari murka Allah Azza Wa Jalla (al-Qusyairi, 329: 2007). Pertanyaannya, bagaimanaindikatorhati spiritual telahberbajutakwa, bukanbajukesombongan, kefasikan, pamer, danbaju-bajunegatiflainnya?Menurut al-Wasithi [W.942 M] setidaknya ada tiga indikator ketika hati spiritual telah berbaju takwa, yaitu: wirai, bertakwa, dan tidak melihat selain al-Haq Jala wa Aladalam dalam peribadatan pada-Nya (al-Baqli, 427: 2008)

 

  1. Akkadū dumūˋahum bi at-tadfīq: mengukuhkan tangis dan kucuran mata air kerinduan(al-Maqdisi, 36: 2006).

Menurut para perindu Tuhan, tangis adalah ungkapan dari tetesan api kerinduan dalam jiwa, derap nafas dalam dada, dan indikator terjadinya intuisi eksistensial [identifikasi dengan wujud Tuhan: terbebasnya seseorang hamba dari perasaan takut, sedih, galau, dan sesamanya sebab telah menyaksikan hakikat kehidupan dalam hati spiritual dan terbukanya tabir penghalang antara dirinya dengan Tuhan Yang Maha Agung]  (al-Khotib, 659: 1966)

Menurut al-Hifni, salah satu metode yang dilakukan oleh para sufi untuk membangkitkan rasa tangis kerinduan atau ketakutan pada Tuhan adalah melalui as-simā’: mendengarkan syair-syair keagamaan yang diiringi musik dan tarian sebagai sarana menimbulkan sikap kontemplatif dalam jiwa (al-Hifni, 36: 1987). Tiada lain tujuan dari sima’ tersebut menurut Abu Hamid al-Ghazali [W. 505 H] adalah mengondisikan dan membangkitkan himmah suasana hati spiritual untuk menerima berbagai pencerahan spiritual (al-Ghazali, 117: 1990).

Ketiga, re-interpretasi taukid gramatikal sebagai kalimat yang mengikuti kalimat sebelumnya dalam neraca taukid spiritual. Dalam konteks ini, sungguh menarik tulisan Ibnu Ajibah [W. 1266 H] dalam Syarhu al-Futūhāt al-Qudsiyah Fī Syarhi al-Muqoddimati al-Ajurūmiyati ketika menafsirkan i’rob dan identitas taukid: makrifat dan nakiroh sebagaimana di bawah ini:

  1. Dalam konteks mengukuhkan, memperkuat, dan memperkokoh sesuatu, maka i’rob taukid bermakna sebagai berikut:

a. Rofa’ taukid [pengukuhan yang luhur] dipergunakan untuk mengukuhkan, memperkuat, dan memperkokoh sesuatu yang luhur seperti bermakrifat haqqul yakin pada Allah dan rasul-Nya. dalam usaha mengukuhan kemakrifatan ini, seorang hamba harus berani mengorbankan diri dan jiwanya [nafsuhu dan ainuhu]. Kenapa harus jiwa dan raga yang dikorbankan? Sebab kedua makrifat tersebut nilainya tiada terkira sehingga tiada pantas untuk mahar kemakrifatan tersebut kecuali sesuatu yang paling berharga bagi seorang hamba, dan tiada lain sesuatu itu kecuali jiwa dan raganya.

Oleh sebab itu, kekang dan payahkanlah jiwa dan ragamu dalam ketaatan niscaya keduanya akan menemukan kebahagian dan rasa tenangnya lalu juallah jiwa dan ragamu pada totalitas kepatuhan pada Tuhan niscaya keduanya akan berada dalam kemulian. Dalam kacamata sufistik, hanya orang-orang yang telah ber-tajrid lahir batin yang bisa melakukan rofa’ taukid. Sehingga layak bagi mereka menyandang gelar orang-orang yang dekat dengan Tuhan [al-muqorrobīn].

Alangkah indahnya  dua bait syair di bawah ini:

Berdasarkan barometer kepayahan, kemulian dicari

Barang siapa mencari kemulian hendaknya begadang di malam hari

Apakah kamu berniat menggapai sesuatu, namun tidur nyenyak di malam hari?

[ketahuilah] orang yang menginginkan intan permata harus menyelam lautan-bahari (Ibnu Ajibah, 317: tt)

b. Nashob taukid [pengukuhan yang harus ditegakkan]dipergunakan untuk mengukuhkan, memperkuat, dan memperkokoh sesuatu yang derajat keluhurannya di bawah derajat pengukuhan rofa’ taukid seperti pengukuhan berbagai ilmu yang hukum mempelajarinya adalah fardlu kifayah dan berbagai ilmu yang berhubungan dengan rahasia-rahasia lahiriah dan batiniah huruf al-Quran.

Pengukuhan kedua ilmu tersebut berada di bawah pengukuhan rofa’ taukid sebab kedua ilmu tersebut bisa ditempuh oleh hamba-hamba Tuhan yang masih dalam makam asbab yang lalai pada Tuhan sebab disibukkan oleh harta, jabatan, dan dunianya. Walaupun derajat nashob taukid masih di bawah rofa’ taukid, namun hanya orang-orang salih dan berkarakter yang mampu melakukannya [al-abrōr aōlihīn] (Ibnu Ajibah: 317: tt).

b. Khofad taukid [pengukuhan yang rendah atau lemah] dipergunakan untuk mengukuhkan, memperkuat, dan memperkokoh sesuatu yang hanya bersifat material dan duniawi semata. Pengukuhan yang hanya menjerumuskan pada pemuasan gaya hidup materialisme dan hedonisme. Selanjutnya, dalam neraca sufistik pelaku khofad taukid adalah orang-orang yang lupa pada identitas dan tugas utamanya di alam dunia, yang dalam bahasa Ibnu Ajibah disebut sebagai al-ghofilūn (Ibnu Ajibah: 317: tt).

2. Dalam konteks mengukuhkan, memperkuat, dan memperkokoh sesuatu, maka makrifat dan nakiroh taukid bermakna sebagai berikut:

a. Makrifat taukid adalah kemakrifatan yang semakin tebal, ketersingkapan hijab yang semakin nyata, dan ketauhidan yang semakin mantap dan menetap dalam hati spiritual. Jalan utama mengukuhkan ketiga faktor tersebut adalah dengan mengekang, memenjara, dan mengondisikan nafsu dalam berbagai latihan rohaniah dan mujahadah.

b. Nakiroh taukid adalah pengingkaran dan penolakan Tuhan terhadap setiap pelaku spiritual yang terbujuk oleh hawa dan nafsunya.

Terakhir, sebagaimana perkataan Kyai Ibnu Malik ra bahwa isim itu ditaukidi dengan lafadz nafsun wa ainun [jiwa dan raga] (Ibnu Malik: 51: tt), maka dalam proses meneguhkan psikologi dan derajat spiritual [al-hāl wa al-maqōm] seseorang harus terus berupaya  melakukan dua perkara berikut secara berurutan: [1] memilih setiap perkara yang tidak disukai nafsu, dan [2] al-ghoibah: menghilang secara total dari kesenangan nafsu sebab telah sirna dalam persaksian dan ketersingkapan hijab spiritual. Selanjutnya ketika proses nafsun dan ainun telah selesai maka seseorang harus naik pada tingkatan spiritual taukid kullun [كُلٌّ: keseluruhan](Ibnu Malik: 51: tt). Artinya, menjual bahkan mendermakan semua yang dimiliki, mulai jiwa, raga, dunia, dan lainnya untuk perjuangan meninggikan kalimat Allah dan kepada setiap orang yang diketahui berjuang untuk Allah SWT dan bersama Allah SWT (Ibnu AJibah, 317: tt). Wallōhu Aˋlamu bi Aowābi

Al-hamdulillah, bersambung pada bagian XXVIII integrasi nahwu spiritual dengan nahwu gramatikal seputar “al-Badalu”. Di kontrakan keluarga kecilku Jalan Ikan Gurami Gang VI Tunjungsekar, Lowokwaru, Kota Malang pada hari Jumat 16 Maret 2018 pukul 12.45 WIB. Saya persembahkan tulisan ini kepada mahaguruku: almarhum (Dr). KH. Ahmad Hasyim Muzadi, pendiri dan pengasuh Pesma al-Hikam Malang dan Depok. Mahaguru yang mendidikku dan teman-teman santri lain dengan penuh kasih sayang. Duhai mahaguru, semoga Allah SWT selalu merahmati, mengampuni, mensucikan, dan mengangkat derajatmu di alambarzakh seiring haul pertama panjenengan menghadapTuhan semesta alam pada 18 Maret 2018. Amin bijahi sayyidil mursalin wa imamil muttaqin, Muhammad rosulil amin. Al-Fatihah.

Daftar Pustaka

Al-Ajam, Rofiq, Mausūˋatu Muṣṭolahātu at-taowwufu al-Islāmī, Cet. I, Beirut: Maktabah Lubnan, 1999.

Al-Baqli, Ruzbahan, ˋArō’isu al-Bayān, Vol. I, Cet. I, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, 2008.

Al-Baqli, Ruzbahan, Arōisu al-Bayān, Vol. I, Cet. I, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, 2008.

Al-Ghazali, Abu Hamid, Khulāotu at-Tasawwufu dalam Majmūˋatu Rosā’ilu al-Imām al-Ghazāli, Cet. V, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, 2006.

Al-Ghazali, Abu Hamid, Mukhtaoru Ihyā’ ˋUlūmiddīna, Beirut: Muassasatul Kutub as-Tsaqofiyah, 1990.

Al-Hifni, Abdul Mun’im, Muˋjamu Muṣṭolahātu aūfiyyatu, Beirut: Darul Maisaroh, 1987.

Ali Jumah, Imad, Qowāˋidu al-Lughotu al-Arōbiyyatu, Riyad: Maktabah al-Maliku Fahed al-Wathoniyah, 1426 H.

Ali, Atabik dan Muhdlor, Ahmad Zuhdi, al-’Ari: Kamus Kontemporer Arab-Indonesia, Yogyakarta: Multi Karya Grafika, tt.

Al-Kamasykhanawi, Ahmad, Jāmiˋul al-Uūl Fī al-Awliyā’, Surabaya: al-Haromain, tt.

Al-Khotib, Lisanuddin, Rouotu at-Taˋrīf bi al-Hubbi as-Syarīf, Qohiroh- Darul Fikr al-Arobi, 1966.

Al-Maqdisi, Izzuddin, Talkhīu al-Ibāroti Fī Nahwi Ahli al-Isyāroti, Libanon: Darul Kutub al-Ilmiyah, 2006.

Al-Qusyairi, Abdul Karim, Laōifu al-Isyārotu, Vol. I. Cet. II, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, 2007.

Al-Qusyairi, Abdul Karim, Nahwu al-Qulūb aoghīr, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, tt. 45

Ibnu Ajibah, Syarhu al-Futūhāt al-Qudsiyah Fī Syarhi al-Muqoddimati al-Ajurūmiyati, Magrib: Darul Baido’, tt.

Ibnu Malik, Khulāotu Al-Fiyati Ibni Māliki, Demak: Kota Wali, tt.

Nadwi, M. MaftuhinSholeh, Awōhu al-Masāliki, Vol. III, Surabaya: Putra Jaya, tt.

Nawawi, Muhammad, Qōmiˋu aṭ-ṭugyān ˋAlā Manẓūmati Syuˋbi al-īmāni, Jln. Gajayana: Ma’hadul Jamiati al-Markazi: Jamiati Maulana Malik Ibrohim al-Islamiyati al-Hukumiyati Malang, tt.