al-Badalu

JelajahPesantren.Com – al-Badalu: Gantilah Karakter Burukmu. Badal adalah lafadz yang mengikuti lafadz sebelumnya dalam konteks i’rob dengan tanpa pelantara huruf athaf, dan lafadz tersebut terkena hukum yang sebelumnya hukum itu dinisbahkan pada lafadz yang diikuti [al-mubdal minhu] (Ali Jumah, 56: 1426 H). Masih menurut Ali Jumah, dalam nahwu gramatikal, badal memiliki empat bentuk sebagaimana berikut: badal kull min kull, badal baˋḍu min kull, badal isytimāl, dan badal gholaṭ.

Dalam nahwu gramatikal para ulama telah memberi indikator-indikator khusus untuk membedakan satu badal dengan badal yang lain sebagaimana berikut. Pertama, disebut badal kull min kulljika badal dan mubdal minhu terdiri dari satu arti dan satu personalia. Oleh sebab itu ragam tipe badal ini juga disebut dengan badal muthobiq [kesesuaian dan keselarasan]. Kedua, badal baˋḍu min kulljika badal berupa sebagian dari mubdal minhunya,baik sedikit, banyak, setengah, atau lainnya. Ketiga, badal isytimālapabila badal terdiri dari lafadz yang berhubungan erat dengan mubdal minhu, namun bukan termasuk bagian integral mubdal minhu [keseluruhan atau bagian] seperti karakter, tabiat, sifat, dan lain sebagainya. Keempat,badal gholaṭadalah badal yang disebutkan sebagai pengganti mubdal minhu yang diucapkan sebabsalah ucap sehingga terjadi kesalahan dalam penyebutan (Nadwi, 154-155: tt).

Untuk lebih mudahnya, mari kita cermati bersama contoh di bawah ini (Nadwi, 154-155: tt).

No Ragam Badal Contoh Aplikatif Arti
1 Badal kull min kull جَاءَ مُحَمَدٌ أَخُوكَ Muhammad, saudaramu telah datang
2 Badal baˋḍu min kull أَكَلْتُ الْمَوْزَ خُمُسَهُ Saya makan pisang, seperlimanya
أَكَلْتُ الْمَوْزَ نِصْفَهُ Saya makan pisang, setengahnya
أَكَلْتُ الْمَوْزَ ثُلُثَيْهِ Saya makan pisang, dua pertiganya
3 Badal isytimāl أَعْجَبَنِيْ أَبُوْ بَكْرٍ خُلُقُهُ الْكَرِيْمُ Mengagumkan padaku Abu Bakar, akhlaknya yang mulia
4 Badal gholaṭ جَاءَ الْمُدَرِّسُ التِّلْمِيْذُ Pengajar, murid telah datang

 

Terakhir, berdasarkan sudut pandang komposisi badal dan mubdal minhu, maka badal dapat dibedakan dalam tiga tipe, yaitu: badal dan mubadl minhu keduanya terdiri dari kalimat isim, badal dan mubdal minhu terdiri dari kalimat fiil, dan badal dan mubdal minhu terdiri dari jumlah sebagaimana contoh di bawah ini (Ali Jumah, 56: 1426 H).

No Komposisi badal &

Mubdal minhu

Contoh Aplikatif Arti
1 Kedua isim أَعْجَبَنِيْالبُلْبُلُ صَوْتُهُ Mengagumkan padaku burung bul-bul, suaranya
2 Keduanya fiil وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا (68) يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ [الفرقان/68، 69] barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(68) (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya
3 Keduanya jumlah وَاتَّقُوا الَّذِي أَمَدَّكُمْ بِمَا تَعْلَمُونَ (132) أَمَدَّكُمْ بِأَنْعَامٍ وَبَنِينَ [الشعراء/132، 133] Dan bertakwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui(132) Dia telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak, dan anak-anak

 

Beralih pada sudut pandang  nahwu spiritual perihal badal. Menurut al-Maqdisi [W. 678 H] dalam pandangan nahwu spiritual badal bermakna: “tabdīlu aṣ-ṣifāti al-mażmūmati bi aṣ-ṣifāti al-mahmūdati: mengganti sifat tercela dengan sifat terpuji” (al-Maqdisi, 32-33: 2006).

Berdasarkan definisi al-Maqdisi di atas, maka dalam menptraktekkan definisi badal spiritual, hamba-hamba Tuhan dapat dibedakan dalam empat golongan: golongan badal orang-orang yang telah bermakrifat [badalu al-ˋārifīna], golongan badal para ahli ibadah [badalu al-ˋābidīna], golongan badal orang yang takut dan berharap [al-mukhowwifīnawa ar-rōjīna], dan golongan badal oknum-oknum yang tertolak [al-maṭrūdīna].

Pertama, golongan badal orang-orang yang telah bermakrifat [badalu al-ˋārifīna]. Bentuk badal yang mereka lakukan adalah pergantian badal kull min kull [totalitas mengganti keseluruhan nafsu mereka dengan tauhid asma, sifat, dan af’al Tuhan]. Artinya, kedirian [kemanusian] mereka sirna dalam peleburan dan instalasi nama-nama Tuhan [asmā’u al-Husnā], ketujuh sifat Tuhan [al-Hayāt, al-Kalām, al-Qudrotu, al-Irōdatu, al-ˋIlmu, as-samˋu, dan al-Baṣoru], dan memandang bahwa setiap realita, fenomena, dan kejadian di alam semesta berawal dari kudrot dan irodat Allah SWT semata. Inilah golongan yang oleh al-Ghazali [W.505 H] dalam al-Maqṣōdu al-Aṡnā disebut sebagai hamba-hamba Tuhan yang berbahagia, beruntung, dan paripurna: “anna kamālaal-‘abdi wa sa’ādatahu fī at-takholluqi bi akhlāqillāhi wa at-tahalli bima’āni ṣifātihi wa asmāihi biqodri mā yutashowwaru fī haqqihi: sungguh kesempurnaan dan kebahagian seorang hamba adalah ketika dia mampu berakhlak dengan akhlak Tuhan serta berhias dengan kandungan sifat-sifat dan nama-nama Tuhan sesuai kapasitasnya” (al-Ghazali, 75: 2001).

Disebabkan golongan pertama telah berhasil mengganti keinginan dan pilihan nafsu mereka dengan memilih perintah dan pilihan Tuhan, maka bagi mereka adalah anugerah terbesar, yaitu melihat wajah Tuhan disurga keabadian sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Qiyamat: 22 dan 23, “Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri [22] Kepada Tuhannyalah mereka melihat” (al-Qusyairi, 44: tt). Mereka adalah para mukmin sejati yang hidup dan matinya sejengkalpun tidak akan pernah bergeser apalagi berpaling dari janji mereka pada Tuhan semesta alam sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Ahzab: 23, “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggudan mereka tidak merobah [janjinya]” (al-Maqdisi, 33: 2006).

Perihal badal golongan pertama ini al-Qusyairi ra mendendangkan dua bait syair:

Hati spiritual orang yang makrifat billah memiliki mata batin || Mata itu bisa melihat fenomena yang tidak bisa dilihat mata dzohir || Orang-orang arif billah itu juga punya sayap-sayap tanpa bulu, yang mereka terbang Denganya menuju Tuhan Penguasa alam semesta (al-Qusyairi, 44: tt).

 Kedua, golongan badal para ahli ibadah [badalu al-ˋābidīna]. Ragam badal yang mereka lakukan adalah badal baˋḍu min kull. Ragam badal ini mereka praktekkan dengan mengganti berbagai kemaksiatan mereka dengan kebaikan dan ketaatan; mengganti berbagai kenikmatan hidup mereka dengan berbagai ragam ibadah yang membuat letih jiwa, raga, dan nafsu mereka [al-mujāhadatu]; dan mengganti kelalaian dan kealpaan kesadaran spiritual dengan rajin dan tekun mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa.

Bagi golongan kedua ini, Allah SWT secara eksplisit dalam kitab suci-Nya menyediakan setidaknya dua kebahagian. Kebahagian pertama berupa digantinya amal kejelekan menjadi amal baik. Sedangkan kebahagian kedua berupa ketentraman jiwa setelah kegalauan, rasa aman setelah ketakutan, kebahagian setelah kesedihan, kabar gembira setelah ancaman, dan seterusnya. Perihal kebahagian pertama, Allah Jala Jalaluhu berfirman dalam QS. Al-Furqon: 70, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.Sedangkan perihal kebahagian kedua, Allah Jalla Jalaluhu berfirman dalam QS. An-Nur: 55, “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik” (al-Maqdisi, 33: 2006).

Ketiga, golongan badal orang yang takut dan berharap [al-mukhowwifīnawa ar-rōjīna]. Bentuk badal yang mereka praktekkan dalam berspiritual adalah badal isytimāl. Badal ini dipraktekkan oleh ahli ibadah yang menyembah Tuhan berdasarkan motif ketakutan dan harapan. Takut pada siksa neraka dan mengharap masuk surga. Dengan kedua sayap amal kebaikan tersebut, akhirnya mereka mendapat anugerah selamat dari siksa api neraka dan masuk surga. Inilah ragam balasan bentuk badal ketiga sebagaimana disinyalir QS. Al-Kahfi: 107-108, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal [107] mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah dari padanya” (al-Maqdisi, 34: 2006) dan sebagaimana tersirat dalam QS. Yunus: 62, “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (al-Qusyairi, 44: tt).

Keempat, golongan badal oknum-oknum yang tertolak [al-maṭrūdīna]. Inilah ragam bentuk badal yang terakhir. Salah satu ragam jenis badal yang harus dihindari dalam berolah spiritual menuju keagungan dan keindahan Tuhan. Inilah bentuk badal yang oleh al-Qusyairi dialamatkan kepada sekelompok manusia yang telah mencapai psikologi dan derajat kedekatan spiritual di hadapan Tuhan [al-qurbu], namun kemudian menggadaikan kedekatan tersebut dengan menuruti bisikan-bisikan nafsu materialisme, hedonisme, dan satanisme. Mereka adalah oknum yang terpleset dalam berolah spiritual sehingga tidak aneh jika Allah SWT dalam QS. Al-Kahfi: 50 menyebut mereka sebagai orang-orang yang dzalim plus sahabat Iblis laˋnatullōh. “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim” (al-Qusyairi, 44: tt).

Menurut al-Maqdisi, ragam badal terakhir ini: badal gholaṭ di samping juga dialamatkan pada orang-orang dzalim, juga dialamatkan kepada setiap orang atheis [kafir] dan setiap manusia yang dimurkai Tuhan. Dalam QS. Al-Baqoroh: 108,  Allah Jala Jalaluhu menyingkap kesalahan berbadal mereka yang berupa mengganti iman dengan kekafiran. “Dan barangsiapa yang mengganti iman dengan kekafiran, maka sungguh orang itu telah sesat dari jalan yang lurus,” begitu Firman Tuhan Azza wa Jalla perihal oknum yang berprilaku badal gholaṭ. Oleh sebab kesalahan mereka dalam berbadal spiritual tersebut, Allah SWT dalam QS. An-Nisa’: 56 mengancam mereka dengan firman-Nya, “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (al-Maqdisi, 34: 2006). Wallōhu Aˋlamu bi Aṣ-Ṣowābi

Al-hamdulillah, bersambung pada bagian XXX integrasi nahwu spiritual dengan nahwu gramatikal seputar “al-Hālu”.

Daftar Pustaka

Ali Jumah, Imad, Qowāˋidu al-Lughotu al-Arōbiyyatu, Riyad: Maktabah al-Maliku Fahed al-Wathoniyah, 1426 H.

Al-Maqdisi, Izzuddin, Talkhīṣu al-Ibāroti Fī Nahwi Ahli al-Isyāroti, Libanon: Darul Kutub al-Ilmiyah, 2006.

Al-Qusyairi, Abdul Karim, Nahwu al-Qulūb aṣ-Ṣoghīr, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, tt.

Nadwi, M. Maftuhin Sholeh, Awḍōhu al-Masāliki, Vol. III, Surabaya: Putra Jaya, tt.

Al-Ghazali, Abu Hamid, al-Maqṣōdu al-Aṡnā, Qohiroh: Maktabah al-Quran, 2001.