yulianto

/Ahmad Yulianto

About Ahmad Yulianto

Ahmad Yulianto adalah pengajar nahwu gramatikal (Alfiyah Ibnu Malik) di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi'in Kembang Singosari sekaligus pelayan Jamaah Rotibul Haddad Sanggar Telaga (Pesantren Tematik) Desa Ngenep Karangploso Malang. Kesehariannya diisi dengan khidmat ilmu di STAI Al Hikam Malang, UNIRA Malang, dan UIN MALIKI Malang. email: ahmadyulianto2018@gmail.com | wa: 082330279393
5 04, 2018

Bagian XXIX Integrasi Nahwu Spiritual Dengan Nahwu Gramatikal : al-Badalu – Gantilah Karakter Burukmu

By | 5 April 2018|Mimbar|0 Comments

al-Badalu JelajahPesantren.Com – al-Badalu: Gantilah Karakter Burukmu. Badal adalah lafadz yang mengikuti lafadz sebelumnya dalam konteks i’rob dengan tanpa pelantara huruf athaf, dan lafadz tersebut terkena hukum yang sebelumnya hukum itu dinisbahkan pada lafadz yang diikuti [al-mubdal minhu] (Ali Jumah, 56: 1426 H). Masih menurut Ali Jumah, dalam nahwu gramatikal, badal memiliki empat [...]

16 03, 2018

Integrasi Nahwu Spiritual dengan Nahwu Gramatikal Bagian XXVII: at-Tawkīdu: Mengukuhkan bangunan spiritual

By | 16 Maret 2018|Mimbar|0 Comments

JelajahPesantren.Com – Secara ringkas Ali Jumah mendefinisikan at-tawkīdu dengan: “lafadz yang mengikuti lafadz sebelumnya, yang tujuan penyebutannya dalam sebuah pembicaraan adalah untuk menghindari salah paham bagi pendengar”. Dalam nahwu gramatikal, taukid dibedakan dalam dua bentuk: taukid lafdzi dan taukid maknawi (Ali Jumah, 56: 1426 H). Bagian pertama dari taukid adalah taukid lafdzi, yaitu sebuah penguatan [...]

10 03, 2018

Integrasi Nahwu Spiritual dengan Nahwu Gramatikal Bagian XXVI: al-Aṭfu: Cinta dan Kasih akan ‘Menyatukan’ Pecinta dan Tercinta

By | 10 Maret 2018|Mimbar|0 Comments

al-Aṭfu: Cinta dan Kasih JelajahPesantren.Com – al-Aṭfu: Cinta dan Kasih akan ‘Menyatukan’ Pecinta dan Tercinta. Pembahasan seputar athaf nasaq dalam nahwu gramatikal kali ini secara ringkas dan padat akan kami ketengahkan berdasarkan pemaparan Kyai Ibnu Malik dalam al-Fiyahnya. Secara berturutan akan diketengahhkan perihal definisi atahf nasaq, huruf athaf nasaq, faedah huruf atahf nasaq, dan [...]

10 02, 2018

Integrasi Nahwu Spiritual dengan Nahwu Gramatikal Bagian XXV: an-Naˋtu Aw aṣ-Ṣifatu: Perbaiki Sifatmu!

By | 10 Februari 2018|Mimbar|0 Comments

integrasi nahwu JelajahPesantren.Com – an-Naˋtu Aw aṣ-Ṣifatu: Perbaiki Sifatmu! Untuk lebih mempersingkat pembahasan nahwu gramatikal dalam pembahasan naat atau sifat, maka kajian kali ini hanya akan merujuk pada bab naat atau sifat menurut Ibnu Malik dalam Khulāṣotu Alfiyati Ibni Mālik sebagaimana berikut: يَتْبَعُ في الإعْرَابِ الأَسْمَاءَ الأُوَل نَعْتٌ وَتَوكِيْدٌوَعَطْفٌ وَبَدَل Lafadz yang mengikuti [...]

28 01, 2018

Integrasi Nahwu Spiritual dengan Nahwu Gramatikal Bagian XXIV: Siapa Menanam Maka Akan Memanen

By | 28 Januari 2018|Mimbar|0 Comments

Nahwu Integrasi JelajahPesantren.Com – asy-Syaraṭ wa al-Jazā’: Siapa Menanam Maka Akan Memanen. Menurut Kyai Imriti, pengarang Kitab al-Imrīṭī, menyatakan bahwa faktor yang menjazemkan fiil mudlori’ [ˋawāmilu al-jazmi] itu ada enam belas. Empat bagian menjazemkan satu fiil mudlori’. Sedangkan empat belas sisanya menjazemkan dua fiil mudlori’ [Kyai Imriti: 13-14: 1994]. Bagian fiil pertama disebut [...]

7 01, 2018

Integrasi Nahwu Spiritual dengan Nahwu Gramatikal Bagian XXIII: Waktu, dalam Sudut Pandang Kaum Sufi

By | 7 Januari 2018|Artikel Pilihan, Mimbar|0 Comments

Bābu al-Af’āl JelajahPesantren.Com – Bābu al-Af’āl: Waktu, dalam Sudut Pandang Kaum Sufi. Dengan sangat ringkas Kyai Sonhaji menyatakan dalam Matan al-Jurumiyahnya yang sangat masyhur bahwa “fiil itu ada tiga macam”: fiil madli, mudlori’, dan amar seperti dalam contoh ḍoroba, yaḍribu, iḍrib [sudah memukul, sedang dan akan memukul, pukullah]. Harokat dasar fiil madli adalah [...]

20 12, 2017

Integrasi Nahwu Spiritual dengan Nahwu Gramatikal Bagian XXII : Inna Wa Akhowātuhā

By | 20 Desember 2017|Mimbar|0 Comments

Inna Wa Akhowātuhā JelajahPesantren.Com –  (Inna Wa Akhowātuhā: Beda Harapan dengan Khayalan). Dalam nahwu gramatikal, bagian kedua yang merusak tarkib dan I’rob mubtadak [nāsikhu al-ibtidā’] adalah inna wa akhowātuhā. Artinya setiap jumlah ismiyah [tarkib mubtada’ dan khobar] yang kemasukan inna wa akhowātuhā harus dibaca nashob isimnya dan dibaca rofak khobarnya [tanṣibu al-isma wa [...]

16 12, 2017

Integrasi Nahwu Spiritual Dengan Nahwu Gramatikal Bagian XXI [2]

By | 16 Desember 2017|Mimbar|0 Comments

jelajahpesantren JelajahPesantren.Com –  Kāna Wa Akhowātuhā:Wirid, Warid, & Wurud. Sebagaimana telah kami sebutkan dalam integrasi nahwu spiritual dengan nahwu gramatikal bagian XXI bahwa kāna wa akhowātuhā adalah di antara faktor yang merubah tarkib dan i’rob kalimat isim [nawāsikhu al-ibtidā’]. Dalam kacamata nahwu spiritual, makna nawāsikhu al-ibtidā’ adalah nawāsikhu al-ahkām aż-żātiyati, al-latī tataˋallaqu bi [...]

6 12, 2017

Integrasi Nahwu Spiritual dengan Nahwu Gramatikal Bagian XXI

By | 6 Desember 2017|Mimbar|0 Comments

hijaiyah JelajahPesantren.Com –  Kāna Wa Akhowātuhā: Tasyabbuh [penyerupaan] negatif dan positif. Menurut para ulama nahwu gramatikal seperti Kyai Ibnu Malik [W. 1274 M] dalam al-Fiyah-nya dan Kyai Ibnu Aqil [W. 769 H] dalam Syarah Ibnu Aqīl-nya,  kāna wa akhowātuhā termasuk bagian faktor yang merusak komposisi tarkib dan i’rob kalimat isim [nawāsikhu al-ibtidā’]. Menurut [...]

26 11, 2017

Integrasi Nahwu Spiritual dengan Nahwu Gramatikal Bagian XX

By | 26 November 2017|Mimbar|0 Comments

al-Īḍōfatu Wa ˋAwaqibuha ar-Rūhāniyatu JelajahPesantren.Com –  al-Īḍōfatu Wa ˋAwaqibuha ar-Rūhāniyatu: Idhofah dan Perlambang Kehinaan Spiritual. Secara bahasa terma idhofah bermakna tambahan, susulan, penggabungan, pertumbuhan, sisipan, dan lampiran (Atabik, 44: tt). Sedangkan dalam nahwu gramatikal, kyai al-Gholayini mengartikan idhofah sebagai penyandaran dua isim dengan menyimpan makna huruf jer di antara keduanya, yang berimplikasi terhadap [...]