Spiritualitas Sarip Tambak Oso

JelajahPesantren.Com – Ribuan atau bahkan mungkin lebih, legenda cerita rakyat di Nusantara yang sarat makna dan i’tibar tentang ilmu kehidupan. Lantas apa sih sebenarnya legenda itu? Legenda menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah cerita rakyat pada zaman dahulu yang ada hubungannya dengan peristiwa sejarah.

Salah satu legenda yang tersohor di kalangan masyarakat Jawa Timur khususnya Sidoarjo adalah cerita Legenda Sarip Tambak Oso. Bagi penggemar ludruk – kesenian khas Jawa Timur –  pastinya lebih mahfum akan cerita Sarip Tambak Oso. Karena lakon ini kerap dimainkan dalam seni pertunjukan ludruk.

Lakon cerita pertunjukan ludruk memang terkadang adalah cerita fiksi belaka, namun untuk cerita Sarip Tambak Oso ini termasuk pengecualian. Karena merujuk pada pengertian legenda menurut KBBI di atas, cerita Sarip Tambak Oso tidak lepas dari sebuah peristiwa sejarah. Iya, sejarah perjuangan rakyat Sidoarjo pada masa-masa kolonialisme Belanda. Keterpanggilan akan pentingnya sejarah yang dimaksud, pada 13 Agustus 2017 sekelompok masyarakat penggiat sejarah Sidoarjo menelurusi jejak perjalanan Sarip Tambak Oso. Para penggiat menapaktilasi lokasi yang diyakini sebagai ‘kuburan mutilasi’ Sarip Tambak Oso, ketiga tempat tersebut adalah sekitaran Jembatan Layang Jenggolo Buduran (kepala), Desa Tambak Oso (badan) dan Desa Kwadengan, Lemahputro (kaki). Ikhtiar mereka ini bisa dipahami bahwa perlunya ada konfirmasi sejarah Sarip Tambak Oso bukanlah suatu cerita rakyat atau dongeng belaka, namun adalah peristiwa sejarah.

Terlepas gagal atau tidaknya konfirmasi sejarah Sarip Tambak Oso karena minimalnya bukti sejarah, yang jelas bukti sejarah wilayah dalam cerita terkonfirmasi yaitu adanya desa Tambak Oso, yang merupakan wilayah desa di ujung timur kecamatan Waru, kabupaten Sidoarjo. Desa yang berbatasan langsung dengan Surabaya sisi selatan (kecamatan Gununganyar) inilah yang menjadi setting geografis lakon Sarip Tambak Oso. Clear ya?

Banyak tokoh-tokoh penting dunia sebagai sosok Yatim (tidak berayah). Ada Tokoh pemimpin dunia, Syech Ahmad Ismail Yasin (tokoh penting pejuang Palestina), Saddam at-Tikriti (Presiden Irak) – Kemudian at-Tikriti diganti Hussein yang merupakan nama depan Ayahnya, Nelson Mandela (Tokoh dan Presiden Afrika Selatan), Bill Clinton dan Barrack Obama (Presiden Amerika Serikat), B.J. Habibie (Presiden Indonesia); ada tokoh besar Islam, semisal Imam Bukhari, Imam Syafi’i dan Imam Hambali; dan juga Kanjeng Nabi Muhammad, Yatim yang tidak pernah ‘menangi’ Ayahanda beliau karena wafat saat masih di kandungan dan bahkan menjadi Yatim Piatu pada usia 6 tahun. Bisa jadi ini adalah cara lain dari Tuhan mendidik hamba-Nya, untuk dipersiapkan menjadi insan sejati.

Kembali ke legenda Sarip Tambak Oso. Lakon ini dengan tokoh sentral sebagai sosok yang yatim juga adalah Sarip, kalau dicermati namanya bisa jadi adalah Syarif, bermakna (1) Mulia (2) Orang terhormat (3) Luhur. Syarif menjadi Sarip karena pergeseran ke dialek Jawa, semacam Ahmad menjadi Akemat, Fatma menjadi Patma, Fatkhul menjadi Patkul dan lain sebagainya. Sosok Sarip yang mulia, terhormat dan luhur sesuai pemaknaan namanya. Mulia, terhormat dan luhur karena selalu terdepan dalam memerangi kezaliman penjajah Belanda di bumi Sidoarjo. Sudah menjadi salah satu motifnya bahwa penjajah bersifat mengeruk dan merampas secara ekploitatif sumber daya daerah jajahannya.

Menelaah lakon cerita Sarip Tambak Oso, setidaknya ada 3 setting skenario utama yang terkait hikmah pembelajaran yang dapat diambil. Pertama, begitu hormat dan patuhnya Sarip terhadapnya Ibunya. Ayah Sarip, dalam cerita adalah sosok orang kaya yang memiliki tambak yang luas. Adalah pengikut dari Pangeran Diponegoro saat memimpin perang Jawa (1825-1830). Tidak ada informasi detail tentang kematian ayahnya yang membuat Sarip menjadi yatim. Dampaknya kehidupan keluarga jatuh miskin dikarenakan penguasaan tata kelola tambak keluarga diambil oleh Pamannya (adik dari Ayah Sarip). Sekali lagi, tidak dapat banyak informasi tentang Ayahnya, karena dalam cerita Sarip adalah sosok Yatim dan terjadi relasional yang kuat secara lahir dan batin antara Sarip dengan Ibunya yang renta dan single parent itu.

Kedua, kala itu, Rakyat Sidoarjo sangat tertindas terutama terkait kebijakan pajak oleh otoritas penguasa penjajah, eksploitasi habis-habisan atas sumber daya alam tidaklah cukup, karenanya pajak yang memberatkan rakyat menjadi cara eksploitasi fiskal yang jitu untuk meningkatkan ‘kas’ Belanda (VOC) yang terkuras akibat operasional perang Jawa atau dikenal juga Perang Diponegoro. Ketiga, kesabaran dan ketabahan keluarga Sarip Tambak Oso yang kaya raya menjadi miskin karena hak tata kelola tambak diambil alih oleh Pamannya, diperparah pajak-pajak atas tambak tersebut masih menjadi beban keluarga Sarip Tambak Oso, hal ini dikarenakan nama Ayahnya masih tertulis sebagai pemilik tambak-tambak tersebut di pemerintah administratur Sidoarjo. Sebenarnya masih banyak setting yang bisa dieksplorasi dari lakon Sarip Tambak Oso, namun hanya mengambil tiga setting diatas, agar fokus pada tema Spiritualitas Sarip Tambak Oso.

Manusia adalah homo planemanet, artinya makhluk yang terdiri dari unsur ruhaniah-spiritual. Hal Ini menjadikan hakikat spiritual manusia memberkahinya dengan harkat yang unik dan keberadaannya sebagai pribadi yang tidak dapat diganggu gugat. Keunikannya tampak khusus dalam moralitas pribadi yang memberikan dia daya di tengah hiruk-pikuk dunia yang fana, untuk berjuang menggapai tujuan  unik pribadinya yang transeden – menjadi milik Tuhan. Jesse R. Kluver & Andrew C. Wicks (2014) peneliti dari Universitas Virginia pakar manajemen dan spiritualitas menegaskan tentang praktik spiritualitas sebagai kebutuhan dasar manusia dalam penciptaan nilai dan komitmen. Karena terkait kebutuhan dasar, “Allah SWT mengaruniakan kepada Anda limpahan spiritual agar Anda bisa menghampiri-Nya”, demikian salah satu nasikhat dari Ibnu ‘Atha’illah as-Sakandari dalam karya al-Hikam-nya.

Emphasis spritualitas dalam Islam diawali dari proses tauhid dan menjalar kepada tuntunan Al-Quran dan dimanifestasikan dengan ilmu dan akhlakul karimah. Dari setting cerita pertama, memunculkan bagaimana relasional Sarip Tambak Oso dengan ibunya, sungguh berakhlak mulia. Sangat open dan gathi. Sarip memposisikan Ibunya sesuai dengan literasi-literasi keagamaan, hal ini berdampak genggaman rida Ibunya menjadi modal utama dalam berjuang, dikisahkan dua kali ‘mati’ bisa hidup kembali karena Ibunya menginginkannya untuk hidup kembali.

Penekanan tauhid yang menjadi ‘takbiratul ihram’ dalam spiritualitas Islam adalah “ke-Tuhanan” yang menjelaskan bahwa kehadiran Tuhan ada dalam diri setiap insan, adanya unsur Nur-Muhammad. Dan ini adalah fitrah (bawaan) manusia sejak asal kejadian. Laku spiritualitas apa dan bagaimana yang dilakukan Sarip Tambak Oso dalam situasional setting kedua? Jawabannya, dengan gagah dan berani disertai sifat syarif (mulia, terhormat dan luhur) menjadi sosok terdepan dalam melawan kedzaliman dan ketidakadilan kaum imperialis yang membelenggu Sidoarjo, ingin mengubah keadaan. In line dengan falsafah Jawa, “Sing sapa wani ngowahi kahanan kang lagi ana, iku dudu sadhengah wong, nanging minangka utusaning Pangeran” (Siapa yang berani mengubah keadaan yang terjadi, bukanlah sembarang orang, namun sebagai ‘utusan’ Tuhan).

Ihwal spritualitas, nilai-nilai keagamaan Islam mengisyaratkan agar nilai-nilai spritualitas sebagai control of power dalam bertindak dan berpikir. Kesabaran dan ketabahan Sarip Tambak Oso dan keluarga dalam kasus dimana kekayaan tambak keluarga yang tata kelola dan hasilnya diambil alih oleh adik ayahnya. Jatuh miskin dan tertekan oleh pajak tambak yang tidak dikelolanya dihadapi dengan legowo. Jiwa ‘pemberontak’ Sarip Tambak Oso seolah padam menghadapi kasus ini, mungkin yang dipikirkan adalah bisa merusak hubungan kekeluargaan karena ‘rebutan’ hak waris. Penggambarannya dalam syarah al-Hikam-nya Ibnu ‘Atha’illah as-Sakandari menjelaskan bahwa amal kebajikan yang tampak dari perbuatan-perbuatan anggota badan merupakan konklusi dari keadaan spiritual yang baik, yang letaknya di dalam hati (bukan hati secara fisik yang merupakan gumpalan darah). Barang siapa yang keadaan hatinya baik, maka itu akan terpancar dari amalannya. Demikianlah sisi Spiritualitas yang dapat digambarkan dalam tiga skenario cerita lakon Sarip Tambak Oso yang melegenda itu. Akhirnya, Wallahu a’lamu bi al-shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *